(malu ‘tuk mencintaimu)

Pada dirimu buat kepakan sayap kupu layu.
(malu ‘tuk mencintaimu) … karenanya.

Walau tahu senyummu panjatkan doa.
Maaf … (malu ‘tuk mencintaimu)

Dirimu pula getarkan tanah dengan tutur kata.
Tunduk mata pula hati … (malu ‘tuk mencintaimu)

Walau tahu tetap hitam bayangmu.
(malu ‘tuk mencintaimu) … itu teduh

(malu ‘tuk mencintaimu)
bukan enggang ‘tuk mencinta
tapi ada yang tak jangkau
Umpama semilir lagi malu-malu goda badai

(malu ‘tuk mencintaimu)
Tapi kuingin tawarkan cinta beda rupa
aku ingin meninggalkan doa untuk calon anak kita, kelak, semoga.

Bagaimana ?

(Desember 2013)

*Mari bercerita tentang wanita

pexels-photo-87293-800x426.jpeg

Mari bercerita tentang wanita yang sekiranya
mampu mengosongkan waktu serta menarik ulur mentari untuk lebih lama bertengker disana,

Seumpama ibu yang menjagai anaknya —sungguh mereka mampu—

katakan padaku, seperti apa mereka ketika melirik ?
/
itu belum seberapa kawan.
Bukan hanya paras, lentik dan lekuk yang istimewa darinya

sekeras apapun dirimu, mereka selalu mampu
melunakkanmu, merengek seperti bayi
selemah apapun dirimu, mereka selalu dapat
menguatkan dirimu, seperkasa Hercules.

Wanita, bila ia surga
pantaskan dirimu untuk memberlakukan mereka seperti itu.
Wanita, bila ia neraka
Sepantasnya dirimu jauhkan mereka.

(2013)

credit:
Image by Alexandru Zdrobău via unsplash

Aku Mencintai Kalian Berdua, Sungguh !

Adakalanya saya merasa di level “cukup bijak” untuk menasehati seseorang! Namun hitungan munculnya pun sekali purnama saja, bahka bisa lebih. Berkata ini, itu dan menjelma menjadi -hmm ya, seperti sebutan manusia -manusia yang memiliki ilmu berlebih- lalu setelah kerongkongan saya kering, saya sadar tak sepatah katapun yang memiliki izin untuk keluar, mereka meloncat saja. Memikirkannya pun terasa begitu berat.

Ternyata.
Butuh keberanian untuk itu.

Continue reading “Aku Mencintai Kalian Berdua, Sungguh !”