Berteriak Kepada Negara

Judul : Negara Kelima
Penulis : E.S. Ito
Penerbit : Serambi

“Mereka hanya ingin berteriak. Biar semua dunia tahu dan mengerti bahwa “nusantara” ini bukan sekedar serpihan bekas kolonial. Nusantara kita mungkin lebih tua dari negeri-negeri utara. Hegemoni utara yang membuat negeri-negeri selatan menjadi kerdil dan lupa akan sejarah panjangnya sendiri” Prof. Sunanto Arifin, yang tersebut sang Pembuka dari sang Penjemput NEGERA KELIMA

Continue reading “Berteriak Kepada Negara”

About a boy

Judul : About a boy
Penulis : Nick Hornby
Penerbit : Gramedia
Cetakan : Kedua, Juli 2003
Tebal : 478 Hlm.
Harga : –

Kisah ini di buka dengan cukup menarik, sebuah dialog tajam di awal sudah memperlihatkan kepada kita bagaimana karakter seorang bocah bernama Marcus. Ia begitu dewasa (12 tahun) atau berlagak sok dewasa. Marcus dengan pemikirannya yang kerap kali menimbulkan kesan lucu terasa begitu menghibur. Gayanya yang selalu membuatnya Ia tinggal bersama sang ibu yang memiliki kecenderungan bunuh diri, membuat marcus berpikir untuk mencari seorang ayah. Karena menurutnya ketika ia tak lagi dirumah, bersekolah, ia tentu tak dapat terus menjaga ibunya. Wow.

Maka mulailah misinya ketika mendapati seorang Will.

Bagaimana bila seorang Pria Metropolitan, Lajang, berumur 30an dan Kaya menciptakan anak Khayalan bernama Ned berusia 2 tahun dan bergabung dengan Komunitas Single parents untuk mengencani seorang wanita.

Itulah yang dilakukan Will Freeman, pria dewasa yang kerap kali bertingkah seoalah ia masih seorang remaja dan tak perlu bekerja setiap hari dan hidup dari royalti lagu Almarhum Ayahnya, Santa’s super sleigh. Ia membenci lagu itu, namun ia menikmati hidupnya. Ironis.

Serta bertemu bocah lelaki berumur 12 Tahun, Marcus. Yang begitu lugunya serta kolotnya mengira Kurt Cobain adalah pemain Manchester United yang berhasil mencetak 5 Gol. Ia adalah anak-anak berumur 12 tahun tertua yang pernah ditemui Will. Ia lebih tua dari umurnya, namun Marcul memiliki rencana sendiri Untuk Will

Marcus dan Will bertemu, menjaling hubungan aneh dan lucu. Seorang bocah bertingkah seolah ia telah dewasa dan Pria dewasa lajang yang masih sering bertingkah seperti Remaja hingga akhirnya mereka tak sadar saling memberi pengaruh. Pertemuan yang merubah semuanya. Walau terkesan kehadiran Will seperti seorang Malaikat yang tiba-tiba menjadi malaikat karena permitaan Marcus.

478 Halaman Nick Hornby dengan amat piawai merangkai cerita About A Boy menjadi indah khas kaum Urban dengan berbagai masalah yang kerap muncul di tengah perkotaan tanpa harus menggunakan bahasa yang berat. Barangkali memang karena bahasanya yang sederhana, novel ini dengan masalahnya yang khas selalu mudah untuk dicerna.

Dari sisi penceritaan penggunaan POV orang ketiga, Nick Hornby selaku dalang menciptakan dua alur dengan dua tokoh utamanya yang paling kontras. Marcus dan Will. Tak hayal 36 bab dapat mengalir bebas. Cukup cerdik saya rasa. Karena dengan Begitu, masing-masing sang tokoh memiliki sisi yang menarik untuk diceritakan sesuai dengan warna mereka. Kita dibuat seolah harus siap memasuki dua pintu yang berbeda, penceritaan yang berbeda. Mereka tak saling tahu. Bahkan Nick Hornby, saya rasa tak terlalu tahu apa yang dipikrkan di pintu sebelah. Ini adalah dua pencerita dalam satu Karya, dan barangkali ketika Novel ini pun dipisahkan tetap akan menjadi satu karya utuh yang lain.

Bisa dibayangkan apabila dengan pembahasan yang sederhana hanya disajikan dalam satu pandangan saja, tentu akan sangat membosankan serta monoton mengingat tiadanya letupan yang cukup besar untuk membuat pembaca untuk menanahan nafas cukup lama. Sejenak, selama membaca karya ini banyak letupan-letupan kecil yang mengitari para tokoh. Terlihat begitu banyak potensi klimaks yang mampu menghasilkan letupan yang besar. Namun sayang sekali, kita tak akan menemukannya dalam About A Boy. Seolah Nick Hornby mencoba berkata, klimaks seperti ini pun sudah cukup. Walaupun tak bisa saya pungkiri klimaks yang ada cukup bijak menjadi pilihan. Walau terlihat perubahan itu terlalu melow. Ketika itu saya terhenti, barangkali ada satu celah maupun dialog yang terlewati yang menciptakan bahwa inilah klimaksnya, dan sekali lagi ternyata kita harus cukup puas dengan itu.

Namun semua itu seolah terkikis (walau menyisahkan kekecewaaan, ini sebernanya ironis) karena sepanjang cerita begitu banyak humor bernada satir, serta dialog-dialog cerdas yang kerap kali sangat menghibur. Saya banyak tertawa membacanya, bukan karena ini adalah karya yang penuh humor, tidak. Namun kerap kali kita mendapati bahwa kehidupan itu sendiri cukup lucu dari sisi yang lain, dengan itulah saya rasa Nick Hornby membuat karyanya cukup baik dari segi parodi kehidupan. Kehidupan ini sudah cukup sulit untuk membuat kisah yang membuatmu terus saja menangis, seperti itu saya rasa kesannya.

Walau demikian, saya harus mengakui dibalik kesuksesan bacaan ini menghibur saya. Walau banyak pesan yang cukup bijak. Namun kisah agak berbau Filmis khas sinetron. Hingga membuat kita berkata, ah ini hanya terjadi di dunia layar saja. Yah betul, begitu sebaliknya.

ATHIRAH

Judul: ATHIRAH
Penerbit: NOURA |
Cet I, Desember 2013
;404 hlm; 14×21 cm

“mengalah bukan berarti kalah !”

“ibumu seperti kapas, jusuf. Ia gadis terindah di Bone. Ayahmu beruntung mendapatkannya”

Tak satupun karya-karya alberthiene endah yang pernah saya baca sebelumnya. Penulis yang yang telah melahirkan puluhan buku biografi, scenario dan penulisan fiksi sedikit memberikan jamian kualitas atas karyanya yang terbaru. Athirah. Sebuah buku novel biografi sosok wanita tangguh dari tanah bugis.

Saya telah memiliki satu jaminan kualitas berdasarkan track record A.E (Alberthiene Endah, sing.pen) .

Athirah, sebuah novel biografi. Menurutku untuk ini A.E sudah sangat jelas memiliki kapabilitas. Dengan alur cerita yang diciptkan ternyata mampu menghadirkan kesan berbeda, seolah kisah ini tak pernah mati.

Untuk wilayah Sulawesi selatan, khususnya Makassar dan kab. Bone. Nama athirah bukan suatu ha lasing lagi, walau demikian tak banyak pula yang tahu bahwa siapa sebenarnya Athirah yang namanya telah diabadikan untuk sebuah sekolah islam terkemuka di Makassar dan Kab. Bone. Mereka tahu athirah tentunya orang besar, dahulunya atau paling tidak seorang wanita yang berpengaruh. Tak salah memang.

Novel buku Athirah ini tak lebih seperti sejarah hidup dirinya dengan melahirkan banyak anak dan pengalam dimadu oleh sang suami menjadi perjalanan hidup yang kelak membuatnya semakin kuat.

Berawal dari Jusuf Kalla , si tokoh Aku dalam Athirah mengunjungi makam Ibunya di pemakaman islam bontoala, Makassar. Penggunaan alur campuran semakin membuat novel ini terasa seperti bukan novel biografi. Seperti saya yang benar-benar buta tentang Athirah, membacanya tetap memiliki sensasi yang sama ketika membaca novel-novel lainnya.

Namun Athirah ternyata memberikan sesuatu yang berbeda dari lainnya, bahkan untuk ukuran karya biografi sejenisnya. Mungkin ini karena kurangnya bahan literasi berupa novel maupun lainnya yang besinggungan lansung dengna tanah bugis Bone-Makassar.

Pengalaman dimadu dan memaafkan menjadi hiasan utama, bukan perkara mudah untuk memaafkan apalagi ukuran penderitaan seorang wanita yang dimadu suaminya. Akan tetapi Athira seolah mengajarkan kita bahwa belajar memaafkan lebih baik baginya dan untuk anak-anaknya. Ia tak ingin menyulut api peperangan yang kapan saja akan sanga mudah disulutkan, tapi ia memilih untuk diam, ia, athirah tahu apabila ia memulai pertikaian itu, bukan hanya ia dan sang suami merasakan gejolak namun juga anak-anak mereka yang saat poligami terjadi masih sangat labil. Disini kita bisa melihat kecerdasan seorang ibu yang tak egois. Jika ingin memikirkan dirinya sendiri, tentu penceraian yang ia minta akan ia dapatkan. Namun setelah perceraian apa yang terjadi ? ia puas atas kemenanganyna ?

Tidak, athirah juga paham dengan berlaku seperti itu, kelak anaknya akan belajar untuk membenci tanpa memaafkan.

Disamping kisah Athirah, ada dua sosok wanita hebat lagi, yaitu; Mak Kerra, Ibunda Athirah dan juga Mufidah, istri Jusuf Kalla sendiri. Kisah ketangguhan mereka terekam dengan cara yang menganggumkan. Bagaimana seorang Mak Kerra dalam usiannya yang relatif muda menikah dengna kakek, kepala kampong dan sebagai istri keempat pula.

Serta kegigihan jusuf kalla mendapatkan cinta mufidah, mulai dari mendorong vespa dari sekolah hingga rumah mufidah, membawa marching band, menjadi dosen pembantu hingga perjuangan mendapatkan restu orang tua mufidah.

Untuk karya yang memikat ini saya rasa tetap memiliki kekurangan. Tiada yang sempurna tentunya. Dalam athirah banyak didapati istilah-istilah bugis yang dalam penulisannya pun tak begitu akurat serta kurangnya penggambaran lokasi, baik di Bone maupun Makassar, padahal sekiranya hal ini dapat dibangun, maka sebuah kekuatan sejarah akan terbangun. Bagaiamana sosok Mak kerra, ibunda Athirah lahir dari rahim yang sama, seorang perempuan dan dengan kisah yang sama. Mereka sama-sama kuat.

Barangkali karena A.E sendiri orang jawa, sehingga banyak kultur, pesona, keadaan bugis yang tak berhasil terekam yang semestinya ada.

“seandainya kisah Athirah ini dituturkan oleh seorang bugis, maka saya rasa akan sangat lengkap” ucap S. Gegge Mappangewa (penulis Lontara Rindu) suatu ketika dalam sebuah forum bedah buku.

Lebih dari itu Athirah tetap menjadi salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan. Karena wanita selalu memiliki rahasianya sendiri dan tanpa kita tahu ternyata mereka lebih kuat dari kita.

“dibelakang seorang lelaki yang hebat, terdapan seorang wanita kuat”

—————————————————————————

“Ibumu lahir dari rahim kesabaran, ia barangkali telah menangis dalam kandungan”

Kerra, ibunda Athirah. Kerra remaja, sang jelita dari tanah Bone. Para pemuda berebut untuk mendapatkannya, namun ketika seorang kepala kampong yang telah berumur serta memiliki tiga orang istri menjadikan kerra sebagai istri keempat membuat seisi bukaka heboh.

Gadis jelita itu kini menjadi istri keempat, banyak yang bertanya mengapa kerra ingin, apa ia bahagia ?. namun tiada yang benar-benar tahu. Tapi Mohammad sangat menyanyangi Kerra

“aku bermimpi memangku bulan” ucap mohammad ketika kemudian kerra hamil.

“semua orang sibuk menebak-nebak akan secantik apa ibu saat lahir karena ia dikandung oleh perempuan yang sangat bening. Namanya kerra”

Athirah lahir dengan kehidupan poligami yang dianggap sudah biasa pada waktu itu, mak kerra hanya berharap athirah tidak memiliki nasib yang sama dengannya.

Bertahun-tahun kemudian berlalu, Athirah menikahi pemuda pekerja keras, ia Kalla. Dikaruniai banyak anak serta rezeki. Tapi siapa mengirah athirah yang berlimpa kebahagian harus mengalai hal serupa dengan mak Kerra.

Hadji kalla adalah pengusaha ulung dan seorang pekerja keras. Dengan usaha yang bernafaskan islam ia terus menjalankan usahanya.

Hari-hari athirah kemudian berubah suram. Anak-anaknya pun bisa merasakan kemurungan ibunya. Namun perlahan tapi pasti Athirah mampu bangkit dari kesedihan, dengan usaha kain sutranya ia mampu sedikit menepis sakit hatinya.

Sebuah keputusan besar dibuatnya waktu itu, ia memilih untuk ikhlas dan memaafkan. Suatu perkara yang pada waktu itu jusuf sering mempertanyakannya. Namun kita tahu sekarang darimana kehebatan seorang jusuf kalla dapatkan.

“aku mencitaimu athirah….maafkan aku. Kau bawa sakit hatimu hingga mati. Maafkan aku”

Tiga bulan setelah athirah meninggal, Hadji Kalla pun ikut meninggal. Pada april 1982

The Goose Girl

Judul : The Goose Girl – Kekuatan Rahasia Si Gadis Angas Putri Mahkota
Penulis : Shannon Hale
Penerjemah : Syahrini Dyah
Sampul : Kebun Angan
Penerbit : Edelweis, Depok . Cet. I Januari 2010 . 317 hlm.

Saya rasa setiap karya berupa cerpen,novelet ataupun novel adalah dongeng dari sang pencerita yang baik. Akan selalu ada hikmah terkandung dalam sebuah cerita.

 

Sudah lama dalam beberapa tahun ini, saya tak mendapati sebuah fiksi Fantasi yang berlatarkan Kerajaan,Putri dan Pangeran seperti kebanyakan dongeng Barat, yang kemudian terhimpun dalam boneka Barbie. Cerita semacam ini sebetulnya bukan hanya bagi usia kanak-kanak, kadang kita memerlukan mitos yang mulai terlupakan saat Logos berkuasa tanpa keseimbangan. Seklise apapun cerita dongeng semacam “ Putri Angsa” akan selalu membawa keasyikan tersendiri, menghibur diri dari kebodohan saya rasa.
Dan novel “The Goose Girl” dengan egonya juga saya lahap, maaf adik-adik kecil. Di dunia yang melewati kanak-kanak terkadang kami ingin kembali dan belajar akan tersenyum dengan ikhlas tanpa pura-pura. Izinkan saya membacan adik kecl, karena saya amat terpukau oleh bagaimana shannon Hale berceritera amat detail, hingga saya bisa membayangkan bagaimana Putri Ani menunggangi Kuda kesayangannya. Hingga Bisikan angin pun ikut terdengar.
The Goose Girl adalah fiksi fantasi yang asli Fantasi. Mungkin gaya pembicaranya yang terkesan menceritakan sesuatu yang begitu wow bagi kenyataan ini. Kata-kata dalam kertas seolah keluar, terbang lalu membentuk adegan demi adegan lalu membisikan ceritanya sendiri.
Dan berhubung saya bukan pecinta novel fantasi berlatarkan kerajaan – putri – Pangeran yang mungkin akan saya sebut sebagai cerita ala barbie. Namun The Goose Girl Two Tumbs. Hadir dengan Putri pewaris tahta Kerajaan Kildenree bernama Putri Anidori yang hidup dengan dongeng dari bibinya sedari kecil. Ia memiliki kemampuan berbicara dengan Angsa dan binatang pada umumunya seperti bibinya. Setidaknya ada 3 bahasa yang ada dalam dunia Putri Anidori yang menurut saya cukup relevan sebenarnya, yaitu Bahasa Manusia yang dimiliki para Penguasa Seperti Ibunya, Bahasa Binatang yang kelak dimiliki Putri Anidori , lalu Bahasa Alam yang sangat langkah bahkan untuk ukuran dunia nyata.
Dongeng ini akan terasa nikmat jika membacanya sendiri.

Tabula Rasa

Judul : Tabula Rasa
Penulis : Ratih Kumala
Editor : A. Ariobino Nusantara
Sampul : Hagung Sihag
Penerbit : Grasindo, Jakarta . Cet. III April 2006 . vii+ 185 hlm.

“Vi, aku kini tahu siapa aku, Aku dilahirkan sebagai batu tulis kosong. Aku Tabula Rasa, aku adalah dogma dan aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup. Aku tak pernah menyesalinya.Aku tak menyesali jalanku”

halaman 183
Tipis memang novel satu ini namun saya rasa novel ini salah satu novel yang kaya. Karya ini terbit dari hasil Kemenangan Ketiga dalam sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DJK) 2003. Novel lama memang, dan lagi-lagi sayan mengula novel lama. Namun rasanya saya begitu antusias buat menulis kesan setiap membaca buku, sebuah saran sebernanya, bahwa menceritakan kembali adalah memberi kita kesempatan untuk memahaminya.
Dari sampulnya saya tak terlalu suka,walau mungkin akan lebih menarik jika hanya judul dan dedaunannya saja yang ada. Jadi tak banyak cerita pula yang bisa saya bagi dari ketidak sukaan saya.
Tabula rasa adalah teori yang menyatakan bahwa manusia lahir pada dasarnya adalah suci. Raras adalah tokoh sentral penuh kontroversial dan penuh problematik khas dunia perkotaan di era milenium. Apakah Raras mendapati dirinya hitam atau putih dengan bintik hitam atau ia sedang berjuang untuk kembali ke Fitrah! .penuh dengan simbol yang memerlukan penalaran dan asbat dari penulis sendiri.
“Tabula Rasa” menurut saya pribadi sangat unik dan merupakan novel pertama dalam kasus Point Of View /sudut Pandang yang kaya. Karya yang membawa kesegaran setelah hanya berputar pada satu POV yang itu-itu saja. Bukan perkara mudah menghadirkan banyak POV dalam satu karya tanpa membuat pembaca bingung atau malah berhenti membacanya. Namun dengan piawa satu POV lompat ke POV yang satu berhasil diterobos. Selain POV, alur yang digunakannya juga kerap melompat. Asyik menemukan sebuah karya yang beda.hhh
Secara umum novel ini menceritakan tentang problematika kehidupan di era Millenium yang baru tumbuh walau terdapat banyak pesan khusus yang kadang terselip. Secara kasat mata novel ini memiliki masalah yang serupa dengan novel “lost Butterfly” Karya Yandasandra yang pernah saya baca. Novel ini pula menjadikan dunia begitu kecil dengan tokoh yang begitu kompleks hidupnya tanpa membatasi teritorial. Dan mungkin ini juga yang membuat saya sedikit terganggu mendapati dialog dengan terjemahan lansung, tanpa menggunakan footnote atau hanya menggunakan sebahagian saja. Jika dialog itu pendek memang tak berpengaruh banyak namun lain halnya pada dialog yang panjang.
Tapi diluar itu Tabula Rasa sungguh membuat ingin terus membalikkan halaman, tak ubahnya dengan novel Thriller yang teros memompa adrenalin dengan banyaknya ranjau kejutan.
Sebuah kisah cinta yang amat kompleks bagi tokoh Galih yang harus kehilangan kekasih seorang wanita rusia, yang menjadi korban transisi kekuasaan Gorbachev ke Borris Yelsin.Waktu pun berlalu dengan cepat, Galih Kembali ke Indonesia setelah menjalani masa mahasiswa di Rusia dan menjadi Dosen di Indonesia. Yang kemudian mendapati salah satu mahasiswinya yang disatu sisi memiliki kesamaan dan mengingatkannya pada kekasihnya dulu.
Lambat Laun Galih pun menjaling kasih, namun berakhir tragis ketika mendapati ternyata Raras adalah ….// hayo tebak Raras adalah apa ?
Namun diluar cerita yang amat kompleks dan meloncat-loncat bagai bajing. Maka konsentrasi harus disiapkan jika tak ingin kehilangan detail cerita yang sangat dibutuhkan menopang keutuhan pemahaman cerita.
Dan sedikit saran bila tiba-tiba menemukan buku ini, mungkin akan lebih bijak bila tak menerima mentah-mentah apa yang ada. Dalam karya ini sedikit banyak memiliki ungkapan dan pemikiran yang mungkin berbau “nyeleneh”
Sejauh itu karya ini diluar konteks pesan yang mungkin kurang saya suka..