Tolong hapus ingatan *itu 

Aku benci perang, ketika raja-raja tak lagi bersenandung, hingga tak lahir lagi raja dari buaian raja.

iri aku pada mereka yang diberi ramuan agar melupakan

andai bisa hapus ingatan, hapus *itu saja,
itu lebih baik daripada mati, barangkali!?

tapi
aku tak lupa.
Selalu ia temui jalan antarkan ingatan itu kepadaku
entah melalui pak pos yang bersiul rendah
atau pada kabel yang mengantung centil
ah, besok, jalan itu saja yang kuhapus

(Nopember 2013)

Tiada gelap yang mampu

Saat ini tiada gelap yang mampu menutupi dirimu
saat ini tiada terang yang mampu menerangi dirimu

disini, dengan kertas yang mulai menguning
tiada tinta lagi, sungguh tiada cukup kata untuk melukis dirimu yang tak pernah kulihat oleh mata tapi dicinta oleh hati
disini menanti dipenghujung umurku
seperti anjing dengan lidah terjulur, menunggui sang majikan

aku seperti di bawah awan hitam yang tak pernah beranjak pergi
aku, setia untuk yang tak pasti
tapi aku selalu senang, akan harapan, kasih, dan mungkin cinta
dan tentu saja dirimu tanpa gelap dan tanpa terang
atau mungkin keduanya atau salah satunya

tapi tetap saja dirimu selalu lebih dari apa yang ada di bayangan ini.
tapi tetap saja dirimu selalu lebih dari apa yang tertulis di kertas ini
tapi tetap saja dirimu selalu lebih dari semuanya.
Karena dirimu adalah satu yang paling dicintai-Nya.

(2013)

credit:
Image by George Becker via pexels

aku dan malam adalah sepasang kekasih,

Aku dan malam adalah sepasang kekasih, begitu aku menganggapnya.

Aku seorang pembangkang yang menyembunyikan memori dari lupa, tentang siang dan cerita-cerita yang penuh hasrat.

Aku pengagung yang menghardik mereka yang setia pada siang, pada nafsu.

Namun ketika telah melangkah sejauh gelap merongrong tubuh.

semuanya berubah,

tak kutahu begini keras rindu yang menyerang hati di negeri tanpa siang

akulah sang pecinta,
sadar telah berjalan tanpa berhenti.

(2013)

*Mari bercerita tentang wanita

pexels-photo-87293-800x426.jpeg

Mari bercerita tentang wanita yang sekiranya
mampu mengosongkan waktu serta menarik ulur mentari untuk lebih lama bertengker disana,

Seumpama ibu yang menjagai anaknya —sungguh mereka mampu—

katakan padaku, seperti apa mereka ketika melirik ?
/
itu belum seberapa kawan.
Bukan hanya paras, lentik dan lekuk yang istimewa darinya

sekeras apapun dirimu, mereka selalu mampu
melunakkanmu, merengek seperti bayi
selemah apapun dirimu, mereka selalu dapat
menguatkan dirimu, seperkasa Hercules.

Wanita, bila ia surga
pantaskan dirimu untuk memberlakukan mereka seperti itu.
Wanita, bila ia neraka
Sepantasnya dirimu jauhkan mereka.

(2013)

credit:
Image by Alexandru Zdrobău via unsplash

Aku belajar untukmu, ibu

wp-1473378083152.jpeg

Hari ini kubelajar menjadi seorang bisu,
ingin menatapmu saja,
lebih lama dari biasanya, jauh lebih lama.
Engkau semakin tua.
Sedang kuakan dewasa.

Jika engkau pergi,
untuk apa lagi aku berkata.
Engkau bisa saja bukan yang terbaik,
tapi setidaknya engkau wanita terindah bagiku,
tutur halus mendamaikan,
diam sunyi menenteramkan.

Jika engkau pergi,
kepada siapa lagi kepala ini bersandar.

Jika engkau pergi,
kepada siapa lagi yang merayu rambutku.

Jika engkau akan pergi,
ajari aku berdamai dengan sedih, karena kutakmampu.

Jika engkau telah pergi, doaku untukmu.

Jika engkau telah pergi
engkau akan pergi dengan senyum.

Jika …
jangan biarkan aku berkata
“ini anakmu, tak akan lagi membiarkan tetesan kesedihan menyentuh pipimu”.

(2013)