(malu ‘tuk mencintaimu)

Pada dirimu buat kepakan sayap kupu layu.
(malu ‘tuk mencintaimu) … karenanya.

Walau tahu senyummu panjatkan doa.
Maaf … (malu ‘tuk mencintaimu)

Dirimu pula getarkan tanah dengan tutur kata.
Tunduk mata pula hati … (malu ‘tuk mencintaimu)

Walau tahu tetap hitam bayangmu.
(malu ‘tuk mencintaimu) … itu teduh

(malu ‘tuk mencintaimu)
bukan enggang ‘tuk mencinta
tapi ada yang tak jangkau
Umpama semilir lagi malu-malu goda badai

(malu ‘tuk mencintaimu)
Tapi kuingin tawarkan cinta beda rupa
aku ingin meninggalkan doa untuk calon anak kita, kelak, semoga.

Bagaimana ?

(Desember 2013)

​Awam di atas awan

mereka mengepak sayap
berterbangan menuju awan

tinggi
dan senyata itu
merasai langit
merasai biru

/apa yang kau kerja ?

pantas mereka semakin tinggi
merasai matahari membangunkan rumah

memilih adalah pilihan
engkau pun tahu

/lantas apa pilihanmu ?

(Desember 2013)

bila cinta…

bila cinta kan terbang
kan ada angin -lalu dalam kejar,
Haus kan biru tertutupi awan malu-malu,
meratapi kenang beradu tatap

bila cinta kian tenggelam
banyak rupa dalam derita,
aus senyum hantam karam,
terbawa juga di kaki nelayan

bila cinta tlah usang
pemimpi bersila merajut duka,
jarum-benang lupa tuk bertaut,
hati tertimpa lara, tak luruh

…bila cinta mulai lapar
tuangkan segera segelas madu
lalu hidangkan sepiring terigu

lalu…
/ia hanya menekuri kaki
/menunggu yang pasti

(Desember 2013)

Tolong hapus ingatan *itu 

Aku benci perang, ketika raja-raja tak lagi bersenandung, hingga tak lahir lagi raja dari buaian raja.

iri aku pada mereka yang diberi ramuan agar melupakan

andai bisa hapus ingatan, hapus *itu saja,
itu lebih baik daripada mati, barangkali!?

tapi
aku tak lupa.
Selalu ia temui jalan antarkan ingatan itu kepadaku
entah melalui pak pos yang bersiul rendah
atau pada kabel yang mengantung centil
ah, besok, jalan itu saja yang kuhapus

(Nopember 2013)

Tiada gelap yang mampu

Saat ini tiada gelap yang mampu menutupi dirimu
saat ini tiada terang yang mampu menerangi dirimu

disini, dengan kertas yang mulai menguning
tiada tinta lagi, sungguh tiada cukup kata untuk melukis dirimu yang tak pernah kulihat oleh mata tapi dicinta oleh hati
disini menanti dipenghujung umurku
seperti anjing dengan lidah terjulur, menunggui sang majikan

aku seperti di bawah awan hitam yang tak pernah beranjak pergi
aku, setia untuk yang tak pasti
tapi aku selalu senang, akan harapan, kasih, dan mungkin cinta
dan tentu saja dirimu tanpa gelap dan tanpa terang
atau mungkin keduanya atau salah satunya

tapi tetap saja dirimu selalu lebih dari apa yang ada di bayangan ini.
tapi tetap saja dirimu selalu lebih dari apa yang tertulis di kertas ini
tapi tetap saja dirimu selalu lebih dari semuanya.
Karena dirimu adalah satu yang paling dicintai-Nya.

(2013)

credit:
Image by George Becker via pexels