Aku akan dewasa, nanti

Akhirnya, disinilah aku berada. Sendiri dan aku takut.
Mimpi-mimpi yang aku anggap kawan, menguap. Mereka terbang, menjadi mimpi orang lain.

Barangkali aku terlalu tua untuk mengeluh. Yah seorang gadis pernah memanggilku tua atau apalah. Selalu aku katakan kepadanya “itu hanya angka”. Aku merasa benar namun mengatakan itu tak juga mengubahku tuk lebih dewasa.

Barangkali aku hanya perlu terdiam. Cukup memandangnya lebih lama dan mengatakan ‘mengapa kau begitu indah, sedang aku terlampau rapuh’. Dan kini kata-kata itu sebatas konsep yang tak pernah terucap. Tak ada ruang untuk mengatakan hal itu lagi. Atau mungkin nanti, ketika aku bertemu diriku yang lebih dewasa, walau kini aku merasa semakin jauh.

bibirmu yang salah menyebut nama

lama, diam
lalu lelah
hidupmu, redup
lalu gugur

// tak lama sebelum itu
ia ingin kau ingat dia
sebut namanya kala tidur
tahulah, barangkali ia kan datang
gerayangi bibirmu yang salah menyebut nama

// kau lelah lalu diam
tertidur tanpa kata
entah nanti ingat atau tidak
jelas, kini kau lelap tanpa ucap
Lalu ada bibir sebut namanya

// esok kau pergi
tak pulang sebelum kau ingat dia
walau hidupmu kan redup
tetap ada asa yang tak gugur
harap ada bekas bibirnya pada bibirmu

(Juli 2014)

Rindu macam apa ?

Rindu macam ini;
menggelisahkan,
mencekam.

Rindu ini menyerang hati
lalu menusuk rasa.

Rindu semacam ini tiada penawar
semakin tinggi dan tinggi
memaki mata tuk tetap terjaga.

Rindu ini gelisah dibuat
meluluhlantahkan
terperosok, ditelan sunyi
jika ada yang mereka risaukan
hanya akan terlupa,
tertiup
dan tenggelam

Rindu semacam ini adalah keinginan untuk lupa walau terus menolak lupa
hingga tiada,
ketika berpaling

(Maret 2014)

Siapa yang sedang menangis ?

Ada beda aku dan hujan
ia ingin aku tetap disini
sedang aku ingin pergi
jadi hujan tak henti
guyur apapun.

“siapa yang sedang menangis?”, tanyaku pada hujan
“sesorang yang amat nelangsa”, jawab hujan

“andai engkau berhenti barang sejenak
bisa aku datang membawa penawar rindu”

“ia tak ingin engkau datang”

“mengapa?”

“ia ingin engkau tetap disini
lawan dunia yang buat kawan – kawanmu tuli”

(Desember 2013)

credit:
Image by Maciej Szlachta via stock.tookapic

(malu ‘tuk mencintaimu)

Pada dirimu buat kepakan sayap kupu layu.
(malu ‘tuk mencintaimu) … karenanya.

Walau tahu senyummu panjatkan doa.
Maaf … (malu ‘tuk mencintaimu)

Dirimu pula getarkan tanah dengan tutur kata.
Tunduk mata pula hati … (malu ‘tuk mencintaimu)

Walau tahu tetap hitam bayangmu.
(malu ‘tuk mencintaimu) … itu teduh

(malu ‘tuk mencintaimu)
bukan enggang ‘tuk mencinta
tapi ada yang tak jangkau
Umpama semilir lagi malu-malu goda badai

(malu ‘tuk mencintaimu)
Tapi kuingin tawarkan cinta beda rupa
aku ingin meninggalkan doa untuk calon anak kita, kelak, semoga.

Bagaimana ?

(Desember 2013)