Syndrom Selfigenit

Siapa yang tidak pernah melihat orang yang berselfie. Emma saya dalam seminggu bisa 7 kali loh. Belum lagi adik saya yang paling bungsu, kakak saya dan juga adik saya yang kedua. Mereka bisa dibilang para pecinta selfie. Dan eh saya lupa Bapak saya. Jadi bisa dikata keluarga saya adalah para pecinta selfie tidak termasuk saya loh.

Barangkali saya terkena syndrom selfieungenic . perasaan mual kalo melihat orang berfie ria dengan gaya moe-moe.

Namun saya selalu kagum kepada mereka, saya takjub dengan rasa percaya diri mereka yang sebesar lapangan sepak bola. Tak kenal tempat dan kondisi semua spot dilibas habis. Barangkali suatu hari nanti ada seseorang yang kurang kerjaan merangkai semua selfie sejagad raya dan mendapati semua spot di dunia sudah terdokumentasikan berkat selfie. Siapa tahu…

Disamping kagum saya terkadang heran, kok mereka tidak bosan yah ?. Hemm… barangkali sudah menjadi hobi. Toh saya sendiri tidak bosan tidur.

Aku Mencintai Kalian Berdua, Sungguh !

Adakalanya saya merasa di level “cukup bijak” untuk menasehati seseorang! Namun hitungan munculnya pun sekali purnama saja, bahka bisa lebih. Berkata ini, itu dan menjelma menjadi -hmm ya, seperti sebutan manusia -manusia yang memiliki ilmu berlebih- lalu setelah kerongkongan saya kering, saya sadar tak sepatah katapun yang memiliki izin untuk keluar, mereka meloncat saja. Memikirkannya pun terasa begitu berat.

Ternyata.
Butuh keberanian untuk itu.

Continue reading “Aku Mencintai Kalian Berdua, Sungguh !”