wanita itu

black-and-white-person-woman-girl-large

 

Oh… jadi seperti seorang wanita ?”

Pertanyaan diatas terlontar dari wanita hebat yang saya kagumi setelah melumat habis draft puisi- puisiku. Tak mengherankan pertanyaan itu terlontar, berhubung ia seorang wanita dan juga tentunya puisi-puisi ku yang memang terdengar “aneh” dalam menggambarkan “wanita” .

Tidakkah seperti demikian adanya kalian?

Balasku tentang puisi-puisi saya yang dibacanya. Ia menatapku sejenak lalu tersenyum. Entah apa makna tatapan dan senyuman itu. Yang jelas ia membuatku membaca ulang semua puisi-puisi yang saya tulis beberapa tahun belakangan ini, khususnnya puisi-puisi bertema wanita.

Saya pun tersenyum. 😀

Wanita itu penuh dengan misteri, jika hari ini mereka kertas kosong maka keesokan harinya beragam warna, dan esoknya lagi kembali kosong.”

Barangkali seperti itu aku melihat seorang wanita. Walau terdengar begitu suram namun keindahan tak akan nampak diantara keindahan, mereka indah karena diantara mereka tak indah, yang lain indah karena ia tak indah.

Celotehan seseorang yang tak begitu mengenal wanita barangkali memang tak perlu kalian gubris. Aku melihat wanita dari orang terdekat yang mengalirkan cinta mereka kepada saya.

Salah satunya dan merupakan wanita pertama yang membuatku mengenal cinta tuk pertama kali, walau butuh perjalanan yang panjang untuk bisa mengartikan semua tindakan beliau, dia adalah Ummiku

Seberapa sering saya merasa tindakannya adalah untuk kesenanganya sendiri, namun takkala melihat tetesan air mata itu terurai, saya merasa malu untuk pertama kalinya. Malu karena begitu bodoh, Malu karena tak pernah ingin mengerti dan malu karena tak jarang menerima cintanya. Setiap hari Cinta itu mengalir deras, memandikanku dengan kasih, semua tubuh ini adalah tetesan cinta sejati dari seorang wanita.

Wanita adalah Ummiku yang tak perlu mengatakan Cinta untuk memberikan cinta. Ia memberiku kasih disaat luka yang kuberi. Ia terima luka hanya untuk melihatku tersenyum”

Cinta ummi kemungkinan berasal dari Ibu beliau, yang lebih sering kupanggil “Aji”. Satu hal yang sangat disayangkan namun tak pula dapat kuhindari adalah tak dapat melihat masa remaja Ajiku. Beliau selalu senang bercerita sembari mengusap rambutku. Apa saja, ia bercerita apa saja dan saya selalu setia mendengarnya. Satu-satunya wanita yang sangat jarang kubuat marah adalah beliau bahkan lebih jarang dari Ummiku. Apa yang istimewa dari beliau ? Hmm… barangkali ketegarannyalah yang membuatku kagum dan aku kan mengenannya selalu.

Namun terkadang wanita terlihat begitu aneh, begitu tak sama dengan Ummi maupun Aji. Mengenal wanita selain mereka berdua adalah pengalaman yang sangat berbeda. Ada sensasi yang cukup sulit untuk mengartikannya tanpa simbol, dan, puisi adalah satunya-satunya jalan yang kupilih untuk hal itu. Wanita diluar mereka berdua terasa begitu penuh kabut. Terlalu banyak yang tak sama.

Pertama kali mengenalnya saat masih duduk di bangku SMA. Dia (red. wanita) penuh dengan gejolak atau barangkali saat itu kami masih labil ?!. Entah. Namun saat itu sama sekali tak kumengerti. Hari ini barangkali ia terlihat membuat matahari terus mengikutinya, dan keesokan harinya rembulan yang ia pangku. Seperti itukah sosok wanita? Pikirku saat itu.

Masa dewasa menghampiri, rasanya aku mengerti sedikit tentang wanita. Namun sungguh pun itu adalah setetes dari samudera ketidaktahuan.  Wujud kasih sayang mereka terlalu absurd buatku, tak cukup hanya melihat atau mendengar. Butuh sebuah cara lain dan itu adalah mengenal wanita. Bagaimana saya mengenalnya jika mengerti saja tak pernah cukup, kini hal itu menjadi pertanyaan yang telah lalu.

Menuggu gelas penuh sepertinya tak jadi persoalan lagi. Ketika saya kemudian lebih banyak mengenal mereka, kini tampak lebih mudah walau tak pernah benar-benar mudah.

Semua misteri itu tetap menjadi milik mereka. Dan entah mengapa mengenal mereka menjadi sesuatu yang menarik kini. Tak perduli semakin kumengenalnya maka semakin dalam misteri itu membawaku. Biarlah.

Aku ingin mengenal wanita seperti Aku mengenal Ummi dan Aji.

Seperti itulah aku menggambarkan wanita.

*credit
Image by Volkan Olmez via unsplash

2 thoughts on “wanita itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s