Senandung bekas Raja

rust-king-iron-bronze-large.jpg

Tapi…
sudikah melihat semua tetesan peluh ini
menjadi pijakan bagi para pelacur intelektual
berdasi, pongah dan senyuman selicik rubah.

Demokrasi mana yang membuat gila itu
demokrasi mana yang terdengar lantang dahulu kini sunyi, hingga suara jangkrik pun terdengar seperti ledakan atom.
demokrasi, mana ?.

Jika engkau lupa, yah… anggap saja teriakan kawanku sebagai kentut.
Tapi kumohon agar tak lupa setiap harinya.

Setetes dari lupamu itu kepada kepada kawan – kawanku seperti luapan banjir.
Dan seperti janjimu dahulu.

Pemerintah dari rakyat
engkau bukan rakyat lagi, kalian adalah benalu
yang terlalu senang bertelanjang dada hingga
lupa untuk mengetuk palu.
Pemerintah untuk rakyat
haha… aku hampir percaya
aku menjadi kayu untuk tungku dapur rumah-rumah bertiang keringat “rakyat” yah itu untuk rakyat
“rakyat” menjadi alas bertamasya di taman negeri seberang.

Maaf pula jika kawanku berfikir demikian…

Reformasi ?
makanan apa pula ini
turun, mari duduk bersama kami, ingat, jangan pernah menutupi hidungmu dan jangan mengenakan dasi hitam yang dalam doaku semoga melilitmu yang tertidur ketika sidang.

Semoga engkau tak malu bersama kawanku yang beralaskan tanah, tanah yang melahirkan kawanku dan juga negeri ini dan tentu saja juga dirimu.

Sungguh sayang, rumah kawanku tak lagi menjadi milik kawanku , walau darah dan keringat yang kalian gunakan selama ini tak pernah kalian bayar bahkan untuk membelikan gula-gula kepada anak kawan – kawanku.

(2013)

Image by gratisography

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s