Kebebasan dalam ber-Indonesia

​Usiamu kini 71 tahun, dan seperti tahun yang lalu-lalu, pekikan merdeka menggema sepanjang Agustus, euforia itu selalu ada dan bermacam pula rupanya setiap agustus. 

Seorang kawanku mengatakan bila engkau seorang manusia, barang tentu 71 adalah angka yang tak lagi muda. Bahkan menurutnya angka tersebut  adalah bonus yang diberikan Tuhan. 

Namun tentu saja engkau tidak seperti itu. Walau tetap saja saya merasa terusik, dan mencoba menerka apakah engkau kini telah menua atau sementara dalam tumbuh kembangmu. Namun sekali lagi segala tebakanku tetap menjadi rahasia kita berdua. 

Tentu engkau pun paham akan maksudku. 

Saya mencintaimu. Saya pun merasa amat bangga karenamu. Dan banyak sebab yang dapat membuatku memutuskan rela mati karenamu, namun tak sedikit pula alasan yang membuatku tak dapat melakukannya. Kurasa engkaupun mengerti mengapa, karena sama halnya denganku, kita adalah hamba. 

Namun tak seperti denganmu, mereka menyebutku tak memiliki rasa cinta kepadamu, tak memiliki rasa Nasionalisme.

Sungguh aku tak terlalu memikirkannya dan maaf bila tak dapat memekikkan kata “Nasionalisme” maupun “harga mati” itu. Kurasa engkau mengerti. Namun sungguh sedih hatiku ketika seorang pecintamu melontarkan pendapat bahwa lebih baik aku pergi, ia ingin mengusirku dari tanah tempat aku lahir, tanahmu yang kucinta, ia ingin memisahkan aku denganmu, yang kucinta. 

Engkau tahu mengapa ?

Karena aku tak dapat mengatakan “harga mati” itu. Andai perdebatan bukanlah sesuatu yang tak terpuji, sungguh aku akan melayaninya.

Tahu apa mereka dengan rasa cintaku denganmu. Toh aku tak mengusik kisah cinta antara dia dengan engkau. Sungguh aneh, mereka rajin memekikkan “kebebasan”.

Sudahkan engkau melihat Film “FAN” ? 

Yah Film Bollywood itu, yang Shah Rukh Khan itu Engkau paham maksudku, tidakkah engkau merasa seperti itu?. Karena entah mengapa terkadang saya merasa sedih dan kasihan kepada engkau.

Atau bagaimana dengan Gloria ? Yah salah satu pasukan Paskibraka itu. Ia pun barangkali mencintaimu. 

Yah sudahlah. Kisah cinta antara yang dicintai dan mencintai memang tak selalu dapat dimengerti oleh orang lain. 

Semoga engkau semakin sehat.

Engkau tahu saya, ibuku dan ayahku akan selalu mencoba merawatmu.

Salam hangat dari pecintamu yang tak dimengerti oleh pecintamu yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s