Dantes, Busoni, Sinbad dan count of Monte cristo

“…Seluruh kebijaksanaan kemanusiaan bersimpul hanya kepada dua Kata ini: Menunggu dan mengharap.” 789 hal.

Edmond Dantes seperti menyeretku ikut serta terpenjara. Walau tidak di d’If seperti dirinya. Dan dapat pula kurasa beratnya dua buah peluru meriam yang akan menenggelamkan dirinya atau dengan setia mengikuti jejaknya melakukan pembalasan yang tak tanggun-tanggung, seperti dirinya, saya pun banyak memikirkan apakah yang dilakukannya dapat dimaklumi atas nama penderitaanya yang ia jalani selama bertahun-tahun. Dan semakin memikirkannya semakin saya merasa betapa hidup karakter Edmond Dantes. Yah, ia bukanlah malaikat seperti penyelamatnya katakan, ia hanya manusia biasa. 

Dan yang bertanggung jawab atas petualanganku selama satu setengah hari dalam Monte Cristo yang setebal 790 halaman adalah Tuan Alexandre Dumas. Saya mengankat topi jerami kuningku untuknya.

Walau ternyata ada perbedaan ketebalan antara terbitan Pustaka Jaya dengan Bentang Pustaka. 

Namun yang terlintas pertama kali ketika berjuma kata “Tamat” hanya, Sungguhkah Monte Cristo tebalnya 790 halaman ?

Ungkapan tersebut bukan karena suatu kebanggan menyelesaikannya dalam tempo tersingkat dalam sejarah membacaku yang memang tak banyak ini. Namun lebih seperti sebuah kekaguman yang bercampur rasa takjub. Kagum karena Tuan Alexandre Dumas sungguh berhasil memangkas perbedaan banyak atau tidaknya sesuatu itu, serta takjub lantaran begitu piawainya beliau mengikis rasa jenuh akan Monte Cristo. Dan hal ini pula yang membuat saya harus menikmati Monte Cristo secara mesra di lain waktu.

Monte Cristo memberi banyak kesempatan kepadaku untuk melihat sebuah karya yang begitu cerdas mengolah tempo. Mengikis ketebalan yang bila melihatnya saja akan membuatmu mual. Bahkan saya tak mendapati diri saya mengeluh karena telalu lama pada suatu kondisi hingga harus menutup novel tersebut atau bila terlalu cepat temponya. Namun walau demikian tak dapat saya katakan bahwa Monte Cristo adalah karya yang sempurna, karena untuk mengatakan hal tersebut tentu membutuhkan pemahaman yang tak sedikit yang dimana tak saya miliki. 

Barangkali bila saja tak biasa mendapati scene yang melompat lincah pada bacaan-bacaanku sebelumnya, tentu akan terasa sukar mengikuti alur yang dihidangkan beliau.

Disamping kekagumanku atas bagaimana mengolah tempo, saya juga banyak menaruh perhatian bagaimana beliu menggambarkan Dantes seolah orang berbeda dengan Count of Monte Cristo. Ia tak main-main memisahkan kedua nama tersebut yang sejatinya adalah orang yang sama yang disamping itu pula tak begitu berniat menyembunyikan jati diri lain Dantes, seperti Sinbad Pelaut atau Padri Busoni. Siapun yang membacanya akan mudah menebak bahwa sosok tersebut adalah Dantes sendiri. Dan justru hal tersebut menurut saya sangat cerdas, karena dengan begitu pembaca tak akan dipusingkan menebak-nebak sang tokoh. Bisa dibayangkan betapa tak menyenangkannya menyembunyikan sosok Count of Monte Cristo sepanjang 400 halaman lebih.

Hingga akhirnya saya hanya dapat mengutarakan bahwa Monte Cristo adalah bacaan yang melezatkan sekaligus menyehatkan. Dalam daftar bacaanku yang tak banyak ini sulit saya menemukan novel yang menyajikan keduanya. Sering saya mendapatkan karya yang begitu lezat namun jauh dari cukup untuk mengatakan hal tersebut sehat atau sebaliknya.

Namun diluar dari semua itu, sangat saya sayangkan belum mampu menikmati karya Alaxandre Dumas ini pada naskah bahasa aslinya. Karena saya beranggapan tentu banyak kata-kata yang dari bahasa aslinya tak ditemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia saat itu, mengingat Monte Cristo dicetak pertama kali pada tahun 1980. Yah inilah salah-satu yang mengurangi kenikmatan suatu karya terjemahan. Tanpa bermaksud kasar, namun sebaik apapun terjemahan tersebut akan sangat berbeda dengan karya aslinya. 

membaca karya klasik selalu memberika kenikmatan. seolah mereka menolak untuk dikata tua.

Selamat membaca.

2 thoughts on “Dantes, Busoni, Sinbad dan count of Monte cristo

  1. Wuah, versi lengkap Count of Monte Cristo rupanya ada terjemahannya. Saya baru tahu ini. Pustaka Jaya menerjemahkan novel legendaris.
    Dulu saya baca novel ini versi ringkasannya. Karena ringkasan, halamannya hanya sedikit, tidak lebih dari 100 halaman. Kalau tahu ada terjemahannya sudah saya buru sejak dulu biar saya bisa baca versi lingkapnya.

    Dan Novel ini memang bagus. Perenungannya tentang kehidupan sangat hebat. Saya jadi kepikiran, apakah betul seseorang hanya bisa bangkit kalau ada bara balas dendam di hatinya? Adakah kemungkinan lain?

    1. Hmm, kurang tahu kalau ini versi lengkap atau tidak. bentang pustaka juga punya cuman kalau tidak salah tebalnya 500an lebih. Yang 100an halaman itu spertinya mirip seri klasik punya saya, yang Anna Karenina.

      Novelnya memang dahsyat soal perenungan lagi dalam soal kehidupan. Syukur sudah sempat baca, walau bukan punya pribadi… hehe…

      Kebanyakan terbitan pustaka jaya saya dapat di perpu daerah. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s