Membaca pun butuh prinsip!

photo-1445311429009-0b7e0cff714a-800x600.jpeg

Nama besar seorang pengarang tentu memiliki jaminan lebih besar akan sebuah karya daripada nama yang tak pernah engkau dengar. Dulu saya meyakini hal tersebut.

Kini setelah beberapa kali dipaksa menelan pil pahit atau ketika tiba-tiba dengan perasaan jengkel menutup buku yang ketika berada di tengah jalan membuatku mual.

Tak ada yang karya yang buruk. Setiap karya baik menurutku secara pribadi. Yang ada hanya karya yang tidak pantas dan pantas.

memang sangat menjengkelkan ketika harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membaca sebuah karya yang membuatku mengumpat tak karuan atau bila ternyata karya tersebut tak sesuai dengan selera.

Namun karena itu pula saya dapat merasakan karya yang begitu menggugah lagi lezat. Karena seperti kata Count of Monte Cristo kita hanya akan mampu menghargai kenikmatan bila kita pernah merasakan ketidaknikmatan.

Namun bukan pula harus terjatuh dalam ketidaknikmatan berkali-kali hingga membuatku beberapa hari harus vakum karena selera membaca menghilang lantaran bacaan terakhirku tak memenuhi harapanku.

Untuk itulah saya harus memperbaharui prinsip membacaku yang amburadul ini. Dan saya telah menetapkan bahwa :

[satu] saya akan menghindari buku yang nama pengarangnya sangat aneh. Ehem ini barangkali sama sekali tak masuk akal namun inilah pemikiranku selama membaca buku, disamping barangkali persoalan pribadi diluar dari masalah membaca.

[dua] menangguhkan membaca sebuah karya yang paragraph pertamanya saja sudah membuatku mual selama seminggu atau mungkin sebulan, dan setelah tenggat waktu tersebut lewat saya akan membacanya kembali, bila perasaan tetap ada maka kuputuskan tak akan membacanya atau sekurang-kurangnya menaruhnya dalam list terakhir dalam sekian yang harus saya baca.

[tiga] mengurangi membaca review atau resensi sebuah novel. Disini saya membedakan sebuah resensi novel dengan tulisan tentang novel yang lebih mengarah perasaaan pembacanya dan tidak pada ceritanya. Karena menurutku membaca sebuah resensi novel sebelum membelinya akan mengurangi rasa novel tersebut dan ini memang terjadi beberapa kali.

[empat] saya akan memikirkan ulang membeli sebuah buku yang memiliki testimoni yang seperti kolom iklan di koran. Yah sederhana saja, buku yang baik tak memerlukan pujian yang begitu bombastis  dan pujian bombastis, apalagi jika bejibun akan tampak seperti mengemis untuk dibaca.

[lima] membuang segala harapan dan ekspetasi sebuah karya. Dengan begitu paling tidak akan mengurangi kekecewaan akibat salah beli buku.

[enam] menahan godaan untul mencari spoiler buku atau menonton live actionya sebelum buku tersebut tamat.

[tujuh] terakhir dan yang terpenting. Sampul dan judul. Jangan menghakimi sesuatu karena luarnya menurutku tak selalu berlaku.

Selamat membaca.

Image by Kate Williams via unsplash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s