Jangan sebut aku pengangguran! 


​Jika berdasar pendapat umum maka tak begitu sulit menemukan seseorang yang berlabel pengangguran. Walau semudah itu pun menemukan yang enggang disebut pengagguran walau berdasar pandangan umum tadi label tersebut jelas terlihat melekat. Namun tak sedikit pula jawaban malu-malu sembari melabeli dirinya sendiri.

Namun ada satu jawaban seorang kawannya kawanku yang cukup melekat dalam ingatanku yang semakin menua ini. Ia enggang mengatakan bahwa dirinya menganggur ketika ditanya perihal kerjanya. Dengan cukup tenang,  “lagi berusaha” adalah jawabannya.

Sederhana saja menurutnya, ketika seseorang itu mengatakan bahwa dirinya sedang menganggur bahwa dikala itu juga sesungguhnya ia tengah mendoakan dirinya sendiri. Dan untuk itu ia senantiasa mengatakan ‘berusaha’ untuk suatu gambaran bahwa ia sedang dalam proses penghapusan label pengangguran itu.

Ketika mendengar penjelasan kawannya kawanku tersebut sungguh saya menaruh hati pada jawabannya. Bukan tanpa sebab, namun label tersebut kian mendekat kala itu, yang saat itu pun pemahamanku tentang pegangguran kurang lebih sama dengan orang kebanyakan.

Dan ketika label tersebut semakin mendekat. Ego seolah membawaku untuk mempersiapkan jawaban jika ditanya. Yah ketika saat itu tiba aku akan menjawab hal senada dengan kawannya kawanku, “saya lagi berusaha”. 

Namun ketika pertanyaan tersebut tersebut benar-benar datang, mengucapkan ‘berusaha’ terasa begitu berbeda ketika mendengar kawannya kawanku ucapkan. Tak ada perasaan megah seperti yang saya bayangkan pertama kali. Mau tak mau saya tak mampu lagi mengucapkan sesuatu yang tak saya pahami betul. Kata ‘berusaha’ menggiringku untuk turut memikirkan hal tersebut hingga akhirnya saya terhenti pada kata Candu.

Apa yang kita ucapkan adalah doa, baik bagi diri kita maupun kepada orang lain. Barangkali untuk itu pula kita hanya dianjurkan untuk berkata baik dan benar. Bahkan kita dianjurkan untuk diam jika tak mampu mematuhi adab tersebut.

Ketika saya menyebut orang lain pengangguran, secara tak lansung saya mengecap bahwa ia orang yang tak berusaha atau kurang berusaha, walau barangkali hal tersebut ternyata tak benar. Dan ketika saya menyebut diri seorang pengangguran maka kurang lebih sama ketika saya mengatakan bahwa saya menerima nasib sebagai pengangguran. 


Kutipan diatas adalah penjelasan sederhana dari kawanyan kawanku itu.

Lantas timbul lagi pertanyaan bagi saya. 

Adakah seseorang yang menerima nasib sebagai seorang pengangguran?

Karena pertanyaan itu pula saya memiliki pandangan baru terhadap “Pengangguran”. Secara sederhana saya simpulkan bahwa pengangguran adala suatu kondisi dimana sesorang tak melaksanakan kewajibannya sebagai manusia. 

Kewajiban seperti apa tentu masing-masing dari kita paham seperti apa. Dan berangkat dari pandangan tersebut melabeli seseorang sebagai pengagguran pun tak lagi menjadi perkara biasa. Bukannya saya berusaha membela diri sendiri yang menurut pandangan umum mengatakan bahwa saya seorang pengangguran. Sama sekali tidak. 

Saya pun berani mengatakan bahwa saat ini pun saya masih pengangguran baik dari pandangan umum maupun dari pandanganku sendiri. Memang sangat keras tapi begitulah adanya dan dengan cara demikian pula saya merasa faham dengan jawaban kawannya kawanku itu ‘berusaha’ adalah satu-satunya jawaban yang cukup anggun. Bekerja pun adalah salah satu kewajiban jadi tak salah betul.

Satu-satunya yang dapat kita lakukan hanya berusaha. Tak bijak kita melabeli seseorang itu pengangguran atau tidak. Karena kadar usaha seseorang pun tak dapat kita ukur secara pasti, toh sedikit pun tetap ternilai ada. Hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang cukup mampu melabeli dirinya sendiri. 

Walau demikian tetap ada seseorang yang secara jelas menenteng label tersebut ketika pengangguran itu telah berubah dari berusaha menjadi candu. Yah Pengangguran bisa saja menjadi candu. Koruptor adalah pengangguran menjadi candu, Pemimpi Dzolim adalah pengangguran menjadi candu, Pembunuh maniak adalah pengangguran menjadi candu, penipu ulung pun adalah pengangguran menjadi candu karena mereka menganggurkan salah kewajibannya sebagai manusia secara berulang-ulang hingga tak mampu lagi jika tak mengaggurkannya. 

Soal pengangguran memang menjadi besar persoalanya bila berpedoman pandangan diatas. Dan bisa kita bayangkan jika hal tersebut telah mencadi candu, maka sungguh besar kerusakan yang akan ditimbulkannya.

Dan kesemua perihal diatas dapat bermula dari kata pengangguran yang begitu mudah terlontar dari mulut kita. Karena bukan tidak mungkin seseorang akan melakukan apapun untuk menghapus label tersebut dan berangkat dari menghalalkan segala cara itu pun bisa jadi menjadi cikal bakal mereka menganggurkan dirinya sebagai manusia.Hingga menjadi candu. Semoga saja tidak.

Selamat berusaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s