Keresahan pasca Lelaki Harimau

​Lelaki Harimau milik Eka Kurniawan serupa belati ditangan kanan dan seember air disebelahnya. Menikam dirimu dalam, lalu ia cipratkan air pada tubuhmu yang barangkali meregang.

Mati.? mungkin, namun setidaknya sebelum itu tentu sempatlah dirimu berselimut bayang-banyang.

Dan awal kisahnya pun serasa begitu banyak bayang yang turut andil. Jika saja tak yakin hanya seorang saja yang merangkai kisah ini tentu aku akan berkata bahwa ini kolaborasi penuh. Sebuah kolaborasi apik dan wow… hanya wow, tak mampu aku temukan kata yang lebih hebat lagi.

Bermula dengan tempo agak cepat dengan rangkaian kalimat demi kalimat yang begitu aneh bagiku, namun terlalu indah untuk menghentikannya, justru seolah ada dorongan untuk terus.

Nuansa desa yang kental mengantarku bernosnalgia kembali kepada sang Ronggeng Dukuh Paruk. Aku menikmatinya barang sejenak setelah harus kembali mengejar. Thriller kah ini? Tanyaku pada halaman-halaman awal. Tapi karena dasar aku yang tak mengerti banyak dan hanya tahu membaca pun lama-lama aku abaikan perihal jenis kelamin cerita ini. Membaca dan terus membaca dengan suara jantung yang sesekali berdendang. 

Tak jarang kutemui bahasan aneh. Ah… bang Eka Kurniawan ini mendobrak banyak pemahamanku yang memang sedikit ini. Dan seolah ia memaksaku untuk bersahabat dengan rangkainnya bila tak ingin ngomel sendiri. Sayang, bila tak kuselesaikan.

Bertabur aroma surealis, hal-hal tabu dan konspirasi untuk berbeda.  Bang Eka mengajak menyantap sajiannya dengan kepala terbuka, menggiringku untuk kembali berfikir. Bahwa membaca pun bukan kerjaan sambil lalu dan berakhir pada rak buku -yang terkadang hanya sebagai penanda “berpendidikan” semata pada tetamu- hingga berdebu.Namun sejatinya membaca adalah proses kemanusiaan.

Tak ada nyanyian indah yang biasa kudapat pada kisah-kisah lainnya yang terkadang hanya sebagai penambah nomor halaman. 

Seolah ingin berbeda atau barangkali memang sampai nomor 190 saja kisah ia punya. Tapi dengan yang sedikit itu lantas kabur pula arti angka-angka. Berbobot tanpa nada-nada merayu. Tak perduli lagi dengan siapa yang merapal kata-kata yang tercetak. Seolah ingin ia bersuara “putuskan sendiri”.

Yang demikian berat itu pula kujumpai Ernest Hemingway sambil lalu. Di Kalimajaro atau bersama sang kakek yang masih tertidur sehabis melaut.

Kisah ini indah dengan segala strukturnya yang aneh. Tidak mencoba merayuku untuk mencinta, tidak berkubu menghakimi, tidak pula bersuara cempreng. Ia mengalir, dengan likunya.

Bahkan setelah melumat habis. Entah harus menyebutnya sebuah novel atau cerita panjang pun terasa sebagai sebuah kebimbangan. Sungguh ia mengejarku bahkan setelah lama kututup.

Margio sang harimau seolah hidup seratus tahun tak pernah menyentuh leher Anwar Sadat yang tumbang dengan masih bersinglet… ah dasar.

Ketika Ma Soma melaporkan meninggalnnya Anwar Sadat kupikir usai pula perihal peniru Radeng Saleh. Ternyata sungguh keliru, Margio sendiri yang meyakinkannku dengan mulutnya berlumuran darah.

Anwar Sadat pun seolah tak pernah mati, Seumpama kisah The Casual Vacancy milik J.K. Rowling

Asmara, Berahi, Dendam, Marah dan begitu banyak lagi yang bercampur dalam mata Margio. 

Tak pula sampai disitu keanehannya. Sungguh kisah ini dapat kau penggal sebanyak lima atau lebih dan tetap tak berubah fakta atau ceritanya.

Dan kesemuannya itu terasa tergambarkan pada cover cetakan kelimanya.

 Lelaki Harimau by Eka Kurniawan

Catatatan.
Lelaki Harimau bukanlah kisah untuk yang belum dewasa. Ukuran kedewasaan tentukanlah sendiri. Mengingat kisah ini cukup Vulgar, baik bahasa maupun aksi terlebih memang ada polah Anwar Sadat dan Komar bin Syueb yang cukup… *sensor.

Salam dan selamat membaca

*silahkan bagi pendapatmu tentang Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s