Merindukan sang pengabar sejati

Maliha Mannan

Ada sebuah ungkapan, Internet adalah predator bagi media berbahan kertas. Ada benarnya jika melihat bagaimana pertumbuhan pengguna internet saat ini. Internet seolah tak lagi merangkak, namun mulai berlari, memasuki segala celah aktivitas manusia saat ini.

Penetrasi pengguna Internet di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Dengan populasi lebih dari 250 juta menjadikan Indonesia sebagai ladang segar. We Are Social yang menerbitkan data pengguna internet di Indonesia, mencatat ada lebih 81 juta pengguna aktif.

Digital In Indonesia Jan 2016

Ini tentu saja angka yang besar dan menurut saya masih banyak yang tak terkena radar data, misalnya saja adik saya yang masih berumur 14 tahun dan barangkali juga sebayanya.

Image by Tech in Asia

Kita menjadi manusia Manusia Modern ? bisa iya, bisa tidak. Namun saya sepakat kalau kita sedang mengarah kesana, jika tidak ingin dikatakan ‘modern’, atau mungkin malah tanpa kita sadari kita telah berada ditengah-tengahnya. Mau tak mau, beginilah dunia berputar saat ini.

Tanpa disadari pun, membaca berita kini tak terlalu sulit, tinggal browsing. Atau yang kebetulan mendapatkan feed news yang banyak tersebar di media sosial anda.

Selamat anda tak lagi akan di katakan ‘ketiggalan’.

Namun apa sesimpel itu ?

Andai saja iya, mungkin terasa nyaman. Justru yang terjadi membuat kita tambah tersesat (dalam hal tertentu). Bukankah kita telah sepakat bahwa kita tak akan membiarkan yang berbauh “Ghiba” atau semacamnya membuat kita tersesat ? kita sudah sepakat kan ? Jika tidak mari kita sepakat, toh ini juga untuk kebaikan bersama bila tak ingin dikatakan untuk kebaikan anda sendiri. huh … sok ngajarin.

Ide tulisan ini berawal dari salah satu thread Kaskus, yang ingin tahu sila lansung ke TKP. Maaf saya tak cantumkan linknya untuk beberapa sebab, cluenya : Berita.

Thread tersebut seolah aliran listrik yang tiba-tiba sampai di Smartphone saya, menyentak.

Barangkali lantaran begitu banyak informasi yang kita terima tanpa adanya filter, yang tentu saja harus ada. Namun tetap saja kerap bocor. Hingga terbentuk sebuah pola pikir yang membuat kita mengganggap wajar yang dahulu sangat tabu di masyarakat. Lupa barangkali masih bisa dimaklumi namun ketika kita tak lagi melihat sesuatu itu adalah persoalan yang nyata yang terbukti berhasil melenakan kita tentu lain persoalan.

Menjadi keresahan bagi saya ketika mendapati beberapa Berita yang beredar via sosial media  yang ada terlihat terkesan terpaksa, terpaksa terbit, terpaksa karna kejar tayang atau barangkali terpaksa nulis karena lagi trend.

Saya sendiri pun tak terlalu update soal berita terkini di tanah air, yang menurut perkiraan saya yang mungkin agak bodoh ini, tetap saja sama. Yah sama dengan bulan-bulan yang lalu. Karena masih saja sama, saya semakin malas membaca berita lokal dan menjadi pemilih dalam menerima berita. Ujung-ujungnya pun harus memilih-milah sendiri yang memakan waktu hingga berita tersebut mulai reda. Dan hasil pencarian saya pun tak bisa dikatakan sukses, walau tak gagal juga sih.

Nah masalahanya apa?

Pertanyaannya begini !

Seberapa sering menemukan berita yang terlalu dangkal dan miris ? Bukan karena apa yang diberitakan loh, tetapi lebih kearah bagaimana penyampainnya.

Kalau saya sih, kok terlalu aneh rasanya. Walau masih bisa saja saya maklumi jika dikelaskan dalam berita terkini yang hanya memuat beberapa fakta sederhana dan tidak menjadi bahan utama dari pembaca. Namun seperti yang saya katakan diatas, banyak juga pengguna intenet yang masih belum memiliki kecakapan dalam mengolah informasi, seperti adik saya misalnya.

Bagaimana bila berita tersebut menjadi bahan utama yang belum tentu akurat lantaran kejar tayang. Toh sudah biasa berita di kelas tersebut ujung-ujungnya pun mengalami perubahan. Kan masih untung kalo perubahannya tak mengubah fakta, kalau terlalu drastis perubahannya gimana?

Belum lagi belakangan ini (kebanyakan infonya dari teman) banyak berita yang terasa perlu Mark 18+ buat bacanya. Bukannya apa, terlalu banyak kata atau istilah yang terasa vulgar dan terkadang kasar. Kasar dalam artian terlalu … apa yah … hmm … kurang etis barangkali.

Nah kalau begini saya merasa rindu sama penyampai berita yang menulis dengan sepenuh hati, barangkali tak selalu terdepan dalam mengabarkan namun terbaik dalam menyampaikan.

Salam

*credit
Image by Maliha Mannan via unsplash

Image by We Are Social Singapore

Image by Tech In Asia

Image by Wilfred Iven via stocksnap.io

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s