Norwegian Wood

Norwegian Wood – Haruki Murakami

Judul : Norwegian Wood (Noruwei no Mori)
Penulis : Haruki Murakami

Penerbit : KPG
Tahun : Cetakan Ketiga, November 2006
Tebal : iv + 550 hml.; 11,5 cm x 19 cm

Cukup lama rasanya tak pernah membaca – sebuah yang dapat dikatakan buku – hingga setiap kali menyentuhnya kembali seolah rasa bersalah mencuat. Yah sudahlah, semua itu sedikit banyak tertebus dengan buku yang baru saja aku tutup.

Sebuah Buku berwarna putih dengan Warna Merah Bundar ditengahnya seperti bendera Jepang. Dan setelah saya searching, setidaknya hampir semua buku Haruki Murakami memiliki elemen tersebut, lingkaran. Barangkali ada pesan atau simbol tertentu atau hanya ingin menekankan kalau beliau berasal dari Negeri Sakura.

Setidaknya ada 64 judul buku yang judulnya dari lagu Band legendaris Inggris, The Beatles. Norwegian Wood karya Haruki Murakami salah satunya, Norwegian Wood adalah karya pertama Haruki yang saya baca dari kurang lebih 13 novel yang pernah ia tulis, suatu hal yang secara personal sangat disayangkan mengingat bagaimana Norwegian Wood membuat terpana. Norwegian Wood – Haruki, rasanya cukup tepat dengan lagu Norwegian Wood sendiri atau hanya merasa seperti itu, seolah lagu itu memandatkan semua kisah Toru Watanabe, lelaki muda yang sentimental. Lebih-lebih ketika Reiko-san datang dengan gitar dan mulai memainkan Norwegian Wood karya The Beatles itu. Entah Haruki memiliki maksud lebih dari yang saya tangkap atau tidak dari lagu tersebut. Yang jelas Burung yang dulu indah itu telah terbang, menghilang.

"Norwegian Wood (This Bird Has Flown)"

I once had a girl, or should I say, she once had me
She showed me her room, isn't it good, norwegian wood?

She asked me to stay and she told me to sit anywhere
So I looked around and I noticed there wasn't a chair

I sat on the rug, biding my time, drinking her wine
We talked until two and then she said, "It's time for bed"

She told me she worked in the morning and started to laugh
I told her I didn't and crawled off to sleep in the bath

And when I awoke I was alone, this bird had flown
So I lit a fire, isn't it good, norwegian wood?

Kisah ini adalah sebuah memori Watanabe yang kini berusia 37 tahun tentang kehidupan remajanya.Berperan sebagai tokoh utama yang menuturkan kisahnya sendiri. Jadi tak ayal membuat buku yang penuh dengan adegan-adegan menarik ini terasa berat.Dan itu terasa lebih masuk akal ketimbang harus membuat Norwegian Wood lebih mudah dicerna – walau sering aku berharap seperti itu lantaran begitu banyaknya simbol yang tak begitu kupahami – Watanabe bukanlah lelaki bodoh. Jelas  ia remaja yang cerdas, walau tetap saja baginya kata “Cinta” tak mampu benar-benar dipahaminya.

Sebenarnya Kisah Watanabe seperti kebanyakan Kaum urban saat ini – bila bisa dikatakan seperti itu – yang penuh dengan gejolak. Namun bagaimana Haruki merangkai semua kisah menjadi begitu memukau melalui dialog antar tokoh hingga membuatnya tampak berbeda adalah suatu yang patut saya apresiasi secara personal pula.

“Kalau begitu maukah kau mendengar dua permohonanku?”
“Aku akan mendengar tiga permohonanmu!”
Naoko tertawa sambil menggelengkan kepala.
“Dua saja ! Cukup dua. Pertama, aku ingin kau bahwa aku sangat berterimakasih kau mau datang menemuiku seperti ini. Aku betul-betul senang, betul-betul — tertolong. Meskipun tak tampak, tapi sebenarnya seperti itu.”
“Aku akan menemuimu lagi,” kataku. “Yang kedua?”
“Aku ingin mengingatku. Maukah kau terus mengingatku bahwa aku ada dan pernah berda disampingmu seperti ini?”

Watanabe mengenal Naoko sebagai kekasih Kizuki, sahabatnya yang kemudian diusianya yang sangat muda bunuh diri di dalam sebuah mobil sembari menghisap semua asap knalpot, satu cara kematian yang tragis seperti halnya Naoko nantinya. Watanabe selalu berfikir Naoko membenci dirinya karena Kizuki lebih memilih waktu terakhirnya bermain biliar bersama Watanabe. Tapi mereka berdua sama-sama tahu Kizuki amat berharga bagi mereka.

Kini di usianya yang ke-18 Watanabe tinggal di Asrama Mahsiswa bersama teman sekamarnya Kopasgat – setidaknya ia dipanggil demikian – yang menurutku paling memberiku hiburan yang cukup dari novel yang terbilang berat ini. Kehadiran Kopasgat dengan segala tingkah lakunya yang selalu mengundang tawa dan ini tidak hanya buatku, setidaknya Watanabe selalu menggunakan Kopasgat sebagai bahan hiburan untuk Naoko maupun Reiko-san, dan itu manjur.

Jadi kehilangan Kopasgat yang dengan kehidupannya serba teratur cukup membuatku sedih, saya rasa Watanabe juga. Namun pertemuanya dengan Nagasawa lewat The Great Gatsby, terasa cukup membantu mengobati kesedihan akan Kopasgat. Nagasawa dengan pemikiran-pemikiranya yang liar tak pernah membuatku kecewa – haha barangkali ini lebih personal – dan dari inilah kehidupan sex dan dunia malam Watanabe bermula. Saya sendiri tak terlalu mampu menebak apa yang sebenarnya yang dipikirkan Watanabe. Sosok Naoko begitu mempengaruhinya dalam sex sejak ulang tahun yang ke -20 Naoko lalu menghilang. Saya kira bekas itu, bayangan itu, suara itu, desahan itu begitu jelas tertanam dalam ingatan Watanabe.

Haruki dengan lantang menelanjangi Watanabe tanpa kiasan. Sepanjang Norwegian Wood berulang kali Haruki menyajikan adegan Percintaan yang terbilang detail untuk ukuran saya pribadi. Hal ini mengingatkanku akan Novel dewasa JK. Rowling namun tak seperti Haruki menggambarkannya. Tiba-tiba saja Norwegian Wood berubah menjadi percintaan picisan. Andai Haruki sedikit mengecilkan intesitas adegan tersebut barangkali akan terasa nikmat. Kata-kata yang pernah saya dengar “Bercinta dengan buku” tiba-tiba berubah dalam arti segala hal.

Namun tidak kepada Midori, wanita yang memiliki kepribadian yang sangat berbeda daengan Naoko yang pendiam dengan segala pikiran saling berebut dalam kepalanya, Midori hadir sebagai sisi lain dari Naoko. Midori yang sedari awal daengan lantang mengatakan Cinta membuat kehidupan Watanabe tak ubahnya lautan. Di sisi lain Naoko adalah hidupnya walau ia sendiri pun tahu, ia tahu Naoko tak akan pernah bisa melupakan Kizuki, ia tahu Naoko tak akan pernah menjadi milikinya seutuhnya. Namun disisi lain Midori membawa kehangatan yang diperlukan Watanabe.

Barangkali kehadiran Midori disaat Naoko yang lama menghilang yang kemudian hadir melalui selembar surat dan segala rahasianya dan segala kerumitannya. Midori adalah tempat Watanabe merasa nyaman.

Kini Naoko dengan kehidupannya Bersama Reiko san, sosok yang seperti saudara bagi Naoko di tempat yang barangkali orang luar menganggapnya sebagai Rumah Sakit Jiwa. Saya rasa di titik inilah Watanabe muncul begitu gagah, ia yang pencinta buku akan digilai sejuta wanita saya rasa.

di tempat itu pula kedewasaan Watanabe di uji.

Ketia Kizuki mati aku mempelajari sesuatu dari keamtatian itu. Dan aku memahaminya sebagai suatu teori. Atau mungkin aku hanya merasa memahaminya. Beginilah teorinya, ‘kematian bukanlah lawan kehidupan, tetapi ada sbagai bagiannya.;

Lantas bagaimana Norwegian Wood versi Film ?

sebenarnaya dititik inilah saya merasa tidak terlalu nyaman. Ketika Norwegian Wood versi Novel sudah setengah aku baca,aku menggebu-gebu untuk melihat bagaimana mereka mengadapatasi novel ini. Dan hasilnya…

Norwegian Wood Versi film ini seperti dibuat khusus bagi mereka yang pernah membaca Novelnya, terlalu banyak yang menurutku sangat penting tiba-tiba menghilang di Filmnya, alhasil menjadi sebuah tontonan yang tak dimengerti bagi yang tak pernah membaca novelnya. Lumayan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s