Berteriak Kepada Negara

Judul : Negara Kelima
Penulis : E.S. Ito
Penerbit : Serambi

“Mereka hanya ingin berteriak. Biar semua dunia tahu dan mengerti bahwa “nusantara” ini bukan sekedar serpihan bekas kolonial. Nusantara kita mungkin lebih tua dari negeri-negeri utara. Hegemoni utara yang membuat negeri-negeri selatan menjadi kerdil dan lupa akan sejarah panjangnya sendiri” Prof. Sunanto Arifin, yang tersebut sang Pembuka dari sang Penjemput NEGERA KELIMA

Beda sensasi untuk cerita yang beda, selalu memiliki ruang kisah tersendiri walau bertaut pada satu intisari; perjuangan yang tertambat pada cinta

Bisa saya menghitung dengan jari kisah-kisah bergenre thriller yang pernah saya baca. Aku yang terlanjur cinta dengan kisah-kisah –maaf saya kerap menggunakan kisah untuk memadakannya dengan kata novell– yang memiliki jutaan kata-kata indah dan metafora yang tak terlalu jenius untuk awam. Mendapati kisah yang penuh dengan ketegangan, tak membiarkan diri untuk hanya mengambil nafas adalah hal yang tak asyik rupanya.

Tapi kisah yang hebat datangnya bisa dari mana saja !. bukankah demikian ?. ketika terlahir kita tak memilih menjadi seperti saat ini, selalu ada jalan untuk bisa mengubah.

Bukan itu ingin saya katakan sebenarnya, bukan juga tentang bagaimana saya melahap novel setebal 524 halaman dalam semalam, bahkan walau dalam keadaan ini pun saya masih sempat menulis angka , maaf, tapi bukan sama sekali. Entah aku pusing karena begadang atau efek dari novel NEGERI KELIMA karya seseorang menyebut dirinya ES ito yang tak henti-hentinya membuatku berdecak kagum. Ada tangis tersimpan disana, ada energi yang membuat beberapa detik sebelumnya aku sempat merebahkan tubuh yang terlanjur lelah ini. Dan disinilah sekarang, bunyi ketikan deretan huruf diatas keyboard berdendang. Hanya untuk mengatakan bahwa saya telah menyaksikan sejarah yang sekaligus bukan sejarah, saya baru saja melihat sebuah pengorbanan yang bukan pengorbanan. Dan yang jelas saya baru saja melihat sebuah kisah yang bukan kisah.

Negara atlas itu kini dipijaki Genta, aku dan kalian, jika ingin percaya. Bukankah kita pernah ikut meramaikan kegerahan mereka akan semua ini ?. yang akhirnya mereka sepakat bahwa hawai adalah pucuk itu. Begitulah jadinya, bahkan setelah semua ini terjadi, percaya saja terlalu sukar untuk terucap dari hati. Terlalu banyak yang terlihat nyata, hingga mata tak mampu melihat lagi putih.

Ilmu tak selalu tumpah dengan sedemikian derasnya. Akan tetapi akau mencoba diriku sendiri untuk mengatakan bahwa akan ada selalu yang dikorbankan dari semua pilihan, bahkan tidak memilih pun adalah pilihan, dan saya tidak memilih berbicara tentang dialog plato dengan solon, walau secara jujur berkata betapa aku hampir tumbang setiap detail sejarah yang tak tergapai oleh nalar, ketika awam dan awan tak ada beda.

Seperti aku yang tergila betul dengan baca, menemukan buku yang tak hentinya membuatku untuk melihat halamannya selanjutnya. Saya tengah melihat wanita yang begitu indah dari belakang dan tak mampu untuk tak melihat ayu wajahnya. Debar jantung tak henti memompa. Hahaha sangat bergaya trihller saya rasa.

Tak ada bahasa yang terlalu memukau seperti milik karya Tasaro atau Laksmi Pamuntjak. Tak ada laut seperti Ernest Hemingway. Tak ada pula sawah seperti Tohari , Tapi tahu apa aku dengan semua itu. Biarkan aku bertutur bahwa kisah itu terurai dengan dirinya sendiri, cukup jujur untuk memberikan waktu walau hanya sekedar bergumam bahwa kisah ini jujur dalam kekurangan, walau tak ada kekurangan yang cukup memukau seperti kisahnya. Ia adalah kekurangan yang duduk bersila didepan kelebihan sejati.

Lihatlah, aku meracau kini. Jangan berpikir aku muka masam karena mendapati kisah ini tidak seperti dengan untaian kata magis yang sering manusia luput dari keterbatasan hal-hal ihwal. Justru kekurangan itu datang tidak dari betapa aku tersihir. Ada perjuangan yang terlampau nyata untuk saya anggap hanya sebatas khayal. Ada gerak tarik ulur yang mencoba menguji rasa cinta itu. Saya tiba-tiba teringat dengan salah satu Founder nulisbuku.com, Brilliant Yotenega: saya tetap mencintai Indonesia, walau dengan hasil cinta bertepuk sebelah tangan.

Sungguh ada mencinta dengan begitu pedih ?

Menguji tidaklah sama. Selalu ada gestur yang memberi sinyal bahwa kita tersentak dari pahit kenyataan. Ujian adalah sebuah momentum bagi manusia untuk menyankinkan seseorang atau sesuatu yang maha. ujian tidak selalu ada namun akan selalu perlu. Tentu cinta tak akan besar tanpa ujian.

Jika engkau mendengar teriakan cinta, engkau lantas percaya ?

Jangan naif, memang terdengar klise, dan akan selalu.

Revolusi tidak untuk orang yang bodoh, mereka tidak hidup untuk itu. Mereka hidup hari ini saja, selalu hari ini yang menjadi coletah di pagi hari, besok lain perkara. Tapi tanyakan kepada Amba yang getir hidup ia tahu, dan saya rasa ia akan sangat bersyukur dengan ujian yang pernah hadir dalam langkah hidupnya. Atau tanyakan kepada srintil, si ronggeng. Bahkan wanita yang dipandang sundal oleh rasul pun ingin berubah.

Bagi yang cerdas siapa yang tak ingin revolusi, negara ini terlanjur bobrok. Tuturnya dilain halaman NEGERA KELIMA. Bagi kebanyakan yang mencari kambing hitam, kata “generasi tua” selalu menjadi objek yang terlampau sering dikuliti, dibakar atau sebuah tusukan pada ulu hati., seperti Melvin.

Generasi Tua selalu lebih sedikit dari Generasi muda, Genarasi Tua adalah kepastian, Generasi muda pun sebuah keniscayaan. Tak ada yang terlalu tua untuk menyebut dirinya muda, tak ada yang terlalu muda untuk menyebut dirinya tua. Satu pertanyaan kembali memikat, negera mana yang tak memiliki kebobrokan ?.

Tak ada salah kiranya jika Richard Llyod Parry dalam bukunya Zaman Edan : Indonesia di Ambang kehancuran bercerita tentang Indonesia yang sedang meregang nyawa, namun masih mampu menobar rahasia dengan kebinekaannya yang kurang ajar banyak.

Seharusnya tak ada imperium yang mampu menandingi Nusantara ini, ah –saya masih berpikir nusantara adalah Indonesia- namun tidak ternyata. Kita tengah melihat negara kita meluncur ke jurang kebinasaan, kita tak binasa dengan Air seperti kaum Nuh. Kita akan binasa karena keruntuhan moral, kebodohan, saya rasa adalah pangkal segalannya. Bahkan tak ada yang cukup bodoh mengatakan dirinya bodoh. Moral kita memang tengah diuji.

Akankah kita kembali besar akan ujian ini atau menjadi salah satu yang binasa karena ulah diri sendiri. Seperti buah simalakama, boomerang yang datangnya lebih cepat dari perginya. Ah…sekali lagi negeri ini terlampau bobrok untuk sebuah perubahan. Semoga mereka tak sepesimis seperti Pak Timur, dan tidak pula seoptimis Ilham.

Semoga kita akan menjadi manusia-manusia yang mampu diterpa akan salah, tidak seperti manusia miskin yang congkak, manusia kaya yang mencintai diri, manusia yang berkaos mini, manusia yang bejat penebar mani dan sederetan lagi manusia munafik.

Aku sama marahnya dengan mereka yang membenci para terhormat disana yang selalu lebih tinggi, namun bermuka pecun. tidak semua memang, namun terlampau banyak dari bilangan sedikit itu. Pergerakan perubahan untuk lebih kecil mungkin ada manfaatnya, jangan lupakan Indonesia karena ia bernanah lendir, masih ada integrasi ide yang tumbuh subur di lahan tak terlihat dengan mata amarah.

Masih ada yang beraga Indonesia dengan jiwa Nusantara, walau satu kelompok berkuasa,sisanya pengaya saja.

“Selamanja saja hidoep, selamanja saja akan berchtiar menjerahkan djiwa saja goena keperloean ra’jat. Boeat orang jang merasa perboetannja baik goena sesama manoesia, boeat orang seperti itoe, tiada ada maksoed takloek dan teroes TETAP menerangkan ichtiarnja mentjapai maksoednja jaitoe HINDIA MERDIKA DAN SLAMAT SAMA RATA SAMA KAJA SEMOEA RA’JAT HINDIA”

Soe Hok Gie (Semaoen, 24 Djoeli 1919)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s