About a boy

Judul : About a boy
Penulis : Nick Hornby
Penerbit : Gramedia
Cetakan : Kedua, Juli 2003
Tebal : 478 Hlm.
Harga : –

Kisah ini di buka dengan cukup menarik, sebuah dialog tajam di awal sudah memperlihatkan kepada kita bagaimana karakter seorang bocah bernama Marcus. Ia begitu dewasa (12 tahun) atau berlagak sok dewasa. Marcus dengan pemikirannya yang kerap kali menimbulkan kesan lucu terasa begitu menghibur. Gayanya yang selalu membuatnya Ia tinggal bersama sang ibu yang memiliki kecenderungan bunuh diri, membuat marcus berpikir untuk mencari seorang ayah. Karena menurutnya ketika ia tak lagi dirumah, bersekolah, ia tentu tak dapat terus menjaga ibunya. Wow.

Maka mulailah misinya ketika mendapati seorang Will.

Bagaimana bila seorang Pria Metropolitan, Lajang, berumur 30an dan Kaya menciptakan anak Khayalan bernama Ned berusia 2 tahun dan bergabung dengan Komunitas Single parents untuk mengencani seorang wanita.

Itulah yang dilakukan Will Freeman, pria dewasa yang kerap kali bertingkah seoalah ia masih seorang remaja dan tak perlu bekerja setiap hari dan hidup dari royalti lagu Almarhum Ayahnya, Santa’s super sleigh. Ia membenci lagu itu, namun ia menikmati hidupnya. Ironis.

Serta bertemu bocah lelaki berumur 12 Tahun, Marcus. Yang begitu lugunya serta kolotnya mengira Kurt Cobain adalah pemain Manchester United yang berhasil mencetak 5 Gol. Ia adalah anak-anak berumur 12 tahun tertua yang pernah ditemui Will. Ia lebih tua dari umurnya, namun Marcul memiliki rencana sendiri Untuk Will

Marcus dan Will bertemu, menjaling hubungan aneh dan lucu. Seorang bocah bertingkah seolah ia telah dewasa dan Pria dewasa lajang yang masih sering bertingkah seperti Remaja hingga akhirnya mereka tak sadar saling memberi pengaruh. Pertemuan yang merubah semuanya. Walau terkesan kehadiran Will seperti seorang Malaikat yang tiba-tiba menjadi malaikat karena permitaan Marcus.

478 Halaman Nick Hornby dengan amat piawai merangkai cerita About A Boy menjadi indah khas kaum Urban dengan berbagai masalah yang kerap muncul di tengah perkotaan tanpa harus menggunakan bahasa yang berat. Barangkali memang karena bahasanya yang sederhana, novel ini dengan masalahnya yang khas selalu mudah untuk dicerna.

Dari sisi penceritaan penggunaan POV orang ketiga, Nick Hornby selaku dalang menciptakan dua alur dengan dua tokoh utamanya yang paling kontras. Marcus dan Will. Tak hayal 36 bab dapat mengalir bebas. Cukup cerdik saya rasa. Karena dengan Begitu, masing-masing sang tokoh memiliki sisi yang menarik untuk diceritakan sesuai dengan warna mereka. Kita dibuat seolah harus siap memasuki dua pintu yang berbeda, penceritaan yang berbeda. Mereka tak saling tahu. Bahkan Nick Hornby, saya rasa tak terlalu tahu apa yang dipikrkan di pintu sebelah. Ini adalah dua pencerita dalam satu Karya, dan barangkali ketika Novel ini pun dipisahkan tetap akan menjadi satu karya utuh yang lain.

Bisa dibayangkan apabila dengan pembahasan yang sederhana hanya disajikan dalam satu pandangan saja, tentu akan sangat membosankan serta monoton mengingat tiadanya letupan yang cukup besar untuk membuat pembaca untuk menanahan nafas cukup lama. Sejenak, selama membaca karya ini banyak letupan-letupan kecil yang mengitari para tokoh. Terlihat begitu banyak potensi klimaks yang mampu menghasilkan letupan yang besar. Namun sayang sekali, kita tak akan menemukannya dalam About A Boy. Seolah Nick Hornby mencoba berkata, klimaks seperti ini pun sudah cukup. Walaupun tak bisa saya pungkiri klimaks yang ada cukup bijak menjadi pilihan. Walau terlihat perubahan itu terlalu melow. Ketika itu saya terhenti, barangkali ada satu celah maupun dialog yang terlewati yang menciptakan bahwa inilah klimaksnya, dan sekali lagi ternyata kita harus cukup puas dengan itu.

Namun semua itu seolah terkikis (walau menyisahkan kekecewaaan, ini sebernanya ironis) karena sepanjang cerita begitu banyak humor bernada satir, serta dialog-dialog cerdas yang kerap kali sangat menghibur. Saya banyak tertawa membacanya, bukan karena ini adalah karya yang penuh humor, tidak. Namun kerap kali kita mendapati bahwa kehidupan itu sendiri cukup lucu dari sisi yang lain, dengan itulah saya rasa Nick Hornby membuat karyanya cukup baik dari segi parodi kehidupan. Kehidupan ini sudah cukup sulit untuk membuat kisah yang membuatmu terus saja menangis, seperti itu saya rasa kesannya.

Walau demikian, saya harus mengakui dibalik kesuksesan bacaan ini menghibur saya. Walau banyak pesan yang cukup bijak. Namun kisah agak berbau Filmis khas sinetron. Hingga membuat kita berkata, ah ini hanya terjadi di dunia layar saja. Yah betul, begitu sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s