Kemewahan Pesta tidak ada di bilik kita

Akhir-akhir ini wacana pemilihan tidak lansung semakin menarik. Hal ini barangkali menjadi semacam sel-sel yang saling berkaitan. Kenyataan bahwa Koalisi Merah-Putih adalah pendukung utama mengenai hal ini. Berbagai wacana pun mulai digelar. Rakyat pun bisa tahu seperti apa masalahnya saat ini.

Salah satu Fraksi yang sebelumnya menentang Usulan ini beralih mendukung penuh. Para pengamat kita menyadari hal ini secara wajar, bahwa dinamika politik memang seperti ini adanya. Justru ini menarik karena dengan demikian pemikiran-pemikiran para penentang yang beralih mendukung, ataupun sebaliknya terdengar cukup merdu saat ini.

Berbagai alasan mengenai Pemilihan Lansung vs Pemilihan tidak lansung cukup banyak dipaparkan, kita hanya cukup ikut memikirkannya. Toh ini juga untuk kita bersama, bukan hanya kepentingan elit politik maupun rumah mereka sendiri, namun terlebih untuk negara.

Source : http://cyberdakwah.com

DEMOKRASI MEMANG MAHAL

Sejauh sejarah kita. Berawal dari Pemilihan secara lansung 2004 lalu, ketika suara rakyat memenangkan pasangan SBY-JK sebagai presiden terpilih. Menyebut momen tersebut adalah kebangkitan Demokrasi kita, tiba-tiba saja demokrasi seperti anak emas yang begitu di agung-agungkan, demokrasi begini, demokrasi begitu.

Namun ada satu hal yang terus Negara ini pikirkan, Demokrasi itu Mahal. Ditambah semrawutnya tata kerja dari pihak yang berwenang menyelenggarakan Pesta ini. Ditilik dari sudut pandang manapun, Pesta selalu saja mahal. Apalagi ketika suatu pesta lebih mendahulukan titik kebanggaan ketimbang fungsi. Kita seolah terseret dalam kesenangan pesta, berusaha memeriahkan pesta ini, sehingga kita sendiri tak sadar bahwa esensi pesta itu sendiri telah menghilang. Kita menjadikan diri kita sendiri tampak bodoh.

Berbagai angka pun diperlihatkan pada mereka yang kecewa, dilihat darimanapun pesta kita tak cukup mewah tapi anehnya begitu banyak anggaran yang diperlukan. Ada yang salah! Demikian banyak seruan dari para penonton sekaligus undangan pesta.

Pemilihan secara lansung melibatkan mulai dari Kepala Desa, Bupati/Walikota, Gubernur hingga Presiden maupun para anggota legislatif kita. Biaya yang dikeluarkan dari pemilihan ini sejati tak sedikit. Maupun demikian biaya bukan hanya karena memang demokrasi itu mahal namun terlebih karena tidak adanya efisensinya anggaran yang digunakan.

Namun, sungguh tidak menjadi sebuah alasan utama sebuah biaya, sungguhpun demokrasi kita berhasil maka biaya menjadi sebuah tumbal. Toh kata mereka demokrasi memang Mahal bung!

PEMILIHAN LANSUNG VS PEMILIHAN TIDAK LANSUNG

Saya sering melihat Pemilihan adalah pisau yang bermata dua. Apapun yang kita pilih memiliki konsenkuensinya sendiri, tidak kecil. Wajar rasanya apabila banyak elit politik kita yang menaruh perhatian besar terhadap wacana ini, apalagi apabila rancangan ini sampai disahkan. Mengingat Parlemen kita didominasi oleh Merah-Putih yang tak lain adalah para pendukung wacana ini.

Demokrasi kita mundur! Demikian komentar Presiden terpilih 2014

Masih banyak komentar serupan di atas dan lucunya adalah suara dari para kontra.

Selalu seperti itu, seolah Partai politik adalah payung yang membatasi gerak serta pemikiran anggotanya. Memberi kita kesan bahwa selalu saja beda partai beda pemikiran dan tak akan pernah sama -walau ada koalisi- dan yang lucunya sangat jarang terlihat pribadi lintas partai yang membentuk lingkaran pembeda. Oh sungguh kita menghibur jika sampai ada!, sayang negeri kita tak terlalu mapan untuk itu.

Perjalanan pemilihan negera ini telah memberi kita cukup bahan penilitian, seperti ungkapan dalam buku Bramma Aji Putra, bahha negeri kita ini ibaraat labortarium raksasa yang tak pernah kekurangan bahan untuk diteliti. Cukup menggelitik bila melihat angka HUT kita yang relatif masih muda untuk ukuran sebuah negara.

PEMILIHAN LANSUNG

Era SBY-JK membangkitkan gairah kebanyakan, yang awalnya tertidur cukup lama. Seolah gelombang yang siap-siap menerkam. Seperti singa yang tak berburu selama satu bulan, ini adalah gelombang yang bergerak dengan perut kosong.

Pemilihan lansung dinilai adalah perwujudan Demokrasi yang ideal, dimana masyarakat menentukan ingin mereka tentang siapa yang menurut mereka bisa membimbing mereka menuju kebaikan. Kendati demikian selalu saja pengetahuan kita tentang siapa pemimpin kita tak pernah sama, jadi hanya sedikit saja dari keseluruhan pemili yang tahu sepak terjang dari sang calon, selebihnya hanya mengikut.

Disamping itu pemilihan secara lansung jelas menghabiskan biaya yang tak sedikit. Bukan hanya dari kubu sang penyelenggara namun juga dari sisi sang calon. Barangkali akan mengaksyikkan jika kita bisa menghitung berapa sebenarnya sang calon menghabiskan uang hanya untuk berkoar-koar “pilihla aku, dan aku berjanji…”

Oke, kita lihat yang paling dekat saja, untuk ukuran pemilihan DPRD Kota kecil saja, salah satu caleg menghabiskan biaya 1M. Wow,

Secara pribadi ini sebenarnya aneh buat saya, kok ada yah orang yang begitu rakus ingin jadi pemimpin yang siapa pun orang tahu bahwa pemimpin itu begitu berat kerjanya, walaupun ada terlihat hilang sisi pelayanannya untuk masyarakat, alih-alih untuk mensejahterakan rakyat malah memperkaya diri sendiri

Salah satu fenomena seperti ini bukan lagi hal yang baru mengingat begitu banyaknya para eksekutif yang menjadi Tahanan KPK.

Selain itu konflik horizontal yang selalu setia mengikuti di setiap putusan sang penyelenggara. Sekiranya kita menganggap ini adalah bagian pesta tak juga bisa disalahkan dengan amat, dikarenakan momen seperti itu sudah menjadi lebih sering terlihat di tiap tahunya.

Gambaran yang terlihat, walau banyak elit politik kita yang secara “malu” untuk mengakui bahwa Pemilu adalah ajang untuk memperlihatkan siapa taring yang paling panjang. Entah bagaimana bisa terjadinya, pesta yang seharusnya sakral ini tiba-tiba berubah menjadi ajang perebutan kekuasaan yang bisa saja terlihat tak lagi beretika. Justru pesta yang diagungkan ini menodai dirinya sendiri, bukan karena pesta kita tak meriah, namun pesta ini tak menyatukan kita tanpa sekat.

PEMILIHAN TIDAK LANSUNG

Pemilihan Tidak lansung sudah lama diterapkan negeri ini, para perwakilan rakyat, di mana banyak pula yang menyebut demokrasi kita adalah demokrasi perwakilan dan saya rasa tak salah betul. Perwakilan kita menentukan pilihan mereka untuk para Eksekutif dan seperti yang terlihat hal ini cukup menghemat biaya serta yang tak dapat kita pungkiri bisa menekan angka konflik yang terjadi akibat pemilihan umum. Walau masih banyak pula yang terjadi namun relatif lebi kecil.

Walau terlihat cukup indah serta harus merelakan dicabutnya satu lagi hak rakyat yang memang sudah semakin sedikit saja. Saya sering berfikir bahwa rakyat itu sejatinya seperti seorang pelanggan, kita tak tahu apa yang kita inginkan sampai kita diberitahu. Untung jika penjual kita adalah orang baik, nah kalau tidak. Hancurlah kita.

Banyak kelebihan namun terlihat celah yang lebih besar dari satunya. Jika MPR/DPR menjadi penentu dari eksekutif. Maka pertaruhan di badan atau pemilihan Legislatif akan lebih ganas lagi, yang awalnya hanya letupan-letupan kecil bisa jadi menjadi letupan besar di pertaruhan ini.

Bahkan yang lebih menakutkan apabila rakyat telah salah pilih orang-orang di Parlemen karena dibutkan selembar uang seratus ribu maka tamatlah riwayat Negara ynag masih mudah ini.

Jadi apapun pilihan kita, harus siap dengan segala konsenkuensinya. Apapun itu

Alangkah indahnya apabila para wakil kita adalah para mereka yang menyerukan keadilan, para mereka yang tak gila harta. Namun sayang seribu sayang para mereka sperti itu tak dapat dijumpai di negeri kita, kendati pun ada, tak banyak juga jumlahnya dan akan tenggelam dalam gilanya politik.

Namun saya teringat bahwa sejarah kekhalifaan kita juga tak menggunakan Pemilihan lansung, mereka hanya musayawarah dan memutuskan orang menurut mereka pantas. Tapi tentu kita sadar alangkah bedanya kualitas pemimpin kita.

salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s