Sang Pencuri Iblis

Judul : Demon Thief (Sang Pencuri Iblis)
Penulis : Darren Shan
Penerbit : Gramedia
Cetakan : Februari 2010
Tebal : 344 Hlm.
Harga : –
Buku Kedua Seri Demonata

“Itu adalah monster dari mimpi terburukku. Kulit merah pucat. Sepasang mata merah gelap. Tidak punya hidung. Mulut yang kecil. Gigi-gigi kelabu yang tajam. Ketika makhluk itu mencondongkan tubuh semakin jauh ke dalam kamar tidurku, aku melihat lebih banyak dan kengerianku memuncak. Dia tidak punya jantung! Ada lubang di bagian kiri dadanya…” (halaman 16)

Buku itu kecil, barangkali seukuran komik pada umumnya. Hanya 18 cm dan aku benar-benar mengira itu adalah Komik. Ditambah Cover gambaran monster merah. Persis gambaran kutipan diatas.

Sebagai penikmat novel. Genre Horor adalah salah satu genre yang jarang terbaca olehku. Bukan karena terlalu menyeramkan sebenarnya, namun lebih dikarenakan tak benar-benar dapat kesempatan untuk menikmatinya selain karena menurutku Genre ini tak cukup banyak memberi ketegangan atau teka-teki yang baru.

Tapi saya membacanya. 🙂

Entah karena menurutku Novel ini berhasil mengecohku atau karena lagi butuh bacaan yang rada tipis. Akhirnya Karya Darren shan ini berhasil membutku mengangkat dua jempol di sela-sela saya membacanya. Tak seburuk yang saya bayangkan, dan sejauh aku membuka halaman hingga bertemu logo gramedia di akhir halaman, saya benar-benar menikmatinya. Setelah itu aku teringat sebuah peringatan yang ada di back cover

PERINGATAN

Membaca Buku ini bisa menyebabkan

susah tidur, mimpi buruk, dan sulit

membedakan Fiksi dari kenyataan

Hehe, menurutku sungguh menggairahkan. Seperti menantang diri sendiri. Apa aku berani membacannya? Dan disinilah aku sekarang.

Selain penampilan cover-nya yang tak terlalu menarik buatku walau cukup tetap untuk mencitrakan nuansa horornya serta jenis kertas yang digunakannya yang berwarna abu-abu. Saya pribadi penyuka buku dengan aroma kertas berwarna kuning kecokelatan (hehe… ini sih selera pribadi)namun membaca Demon Thief saya dibuat melupakan hal itu (walau tetap menyuka kuning. Hidup Kuning!, eits ini zona bebas P**ITIK)

Demon Thief bercerita tentang seorang anak laki-laki, Kernel Fleck yang sedari kecil bisa melihat cahaya-cahaya aneh disekitarnya, namun ketika ia menceritakan hal itu kepada mum dan dad, mereka tak percaya dan mengira Kernel sedang bermain sesuatu. Hingga Kernel bercerita Cahaya-cahaya itu di sekolah, dan seharusnya ia tak pernah menceritakannya karena setelah itu semua anak-anak menjauhinya dan menyebutnya “anak aneh”. Secara otomatis kehidupan kernel berubah menjadi sepi, tak satupun teman yang berhasil ia temukan.

“Kesepianku jadi sangat menyiksa sebulan terakhir ini. Tidak ada lagi yang membuatku tertarik. Jam-jam berlalu lambat…” (Halaman 11)

Dalam kesepiannya Kernel mulai memainkan petak-petak cahayannya. Hingga ia menyadari bahwa cahaya itu berdenyut dan mulai menyusunya seperti puzzle sehingga kumpulan petak cahaya berwarna biru terkumpul menjadi satu di lantai kamarnya, menyerupai jendela. Ia bisa melihat sosok aneh dibalik petak cahaya itu. Monster merah dengan dengan dada sebelah kiri dipenuhi ular. Kernel yang sudah teramat takut bercampur aduk dengan kegelisahan. Ia lalu ikut melompat dalam cahaya.

Ketika tersadar, ia melihat mum dan dad ketakutan hebat melihatnya. Kernel menghilang selama satu minggu dan yang membuat mereka merasa takut. Kernel sama sekali tak ingat apa yang terjadi setelah ia melompat di petak cahaya, yang tak akan pernah ia ceritakan.

Setelah kejadian itu Kernel, mum dan dad memutuskan untuk pergi dari kota besar. Paskinston adalah tempat mereka yang baru. Kehidupan kernel kembali normal, disana ia bisa menemukan anak-anak yang mau berbicara dengannya, dengan syarat ia tak akan pernah bercerita tentang cahaya.

“Paskinston adalah tempat yang sepi, hanya ada beberapa toko kecil…” (Halaman 29)

Hingga suatu hari di taman sekolah, ketika mum dan dad sedang keluar kota. Paskinston menjadi berbeda. Mrs. Egin, sang penyihir merapalkan mantra didepan anak-anak. Membuka jendela petak cahaya, dan monster berkepala manusia-anjing menyeruak keluar dari cahaya. Mulai menyabar anak-anak. Darah dimana-mana. Tak lama kemudian 4 sosok manusia ikut keluar dari cahaya, mengejar monster berkepala manusia-anjing. Kernel ketakutan ketika monster itu menatapnya, namun dalam sekejap ia sadar bahwa Art, adiknya yang masih kecil telah didekap monster yang lalu berlari ke arah cahaya, menghilang, diikuti empat manusia aneh. Dan kebimbangan ia ikut melompat.

Lalu petualangan di dunia Demonata pun bermula

Dunia yang dipenuhi iblis, dunia yang ukuran waktunya tak sama dengan dunianya.

Bertemu seorang penyihir tua yang Arogan, Bernabus dan para pengikutnya.

Dan.

Dan. Mari membaca bukunya.

“Pencuri” dia berteriak, membuatku terdiam, liar dan gila lagi. Kedua tangannya diangkat dan dilambai-lambaikan dengna marah kepadaku. “Temuka pencurinya! Tidak lama lagi! Kau akan lihat. Penyihir tua gila ini akan lenyap dalam kepulan asap. Burn, Kernel Fleck, Burn!” (halaman 39)

Huft… cukup heboh cerita ini sebenarnya. Dengan alur yang cukup cepat, hanya sedikit menyisahkan waktu untuk bertele-tele, memacu kita untuk terus mengikuti kisah Kernel dan yang membuatku menyukai buku ini adalah karena aku sukar menebak rahasia cerita hingga bagian akhir buku. Hanya menyisakan beberapa halaman untuk membuat kita mencernanya dan untung saja tak terlampau sulit untuk itu. Walau sedari awal telah ada jawaban atas rahasianya. Tentu saja, dan Darren Shan piawai membuat kita untuk meremehkan petunjuk utama menjadi hal yang biasa. Kau akan tahu ketika membacannya 🙂

Demon Thief ternyata adalah karya seri dari Darren Shan, ini merupaka seri kedua Demonata. Ini membuatku cukup kesulitan untuk mengerti banyak hal tentang dunia demonata. Aku harus memburu buku pertama (pakai mobil F1) untuk menuntaskan semua urusanku dengan Demonata, ah.

Walau demikian, saya bingung. Darren Shan bermaksud menkategorikan Demon Thief ini sebagai bacan Dewasa atau umum ?!. Karena terlampau banyak adegan-adegan yang menurut hematku, sadis, brutal dan sangat khas Demon untuk membuat umur anak-anak membacannya. Bisa-bisa peringatan di back cover menjadi kenyataan. Hehehe.

Kemudian, saya tak bisa mengatakan bahwa buku sangat cocok untuk pencinta bacaan suspence tinggi maupun pembaca dewasa yang merindukan bacaan yang apik. Menurutku (pribadi, yeh) terlalu banyak celah yang membuat buku ini terkesan terlalu anak-anak. Sehingga membuat buku ini kurang pas takaran dan terkesan setengah-tengah. Mua bacaan horor dewasa atau anak?! Barangkali efek dari sang dalan (POV orang pertama) adalah “aku” masih anak-anak. Jadi patutlah kita angkat topi buat Kernel Fleck atas kisah tragis nan panjang, ia kuat. Dan ia…

Tapi. Mantaplah buat bacaan ringan (cialah, belagu banget) hehehe

Barnabus bergidik, kemudian menguatkan diri.

“Apakah aku?”

“Bukan,” kataku sedih. “Kurasa aku.” (halaman 344)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s