ATHIRAH

Judul: ATHIRAH
Penerbit: NOURA |
Cet I, Desember 2013
;404 hlm; 14×21 cm

“mengalah bukan berarti kalah !”

“ibumu seperti kapas, jusuf. Ia gadis terindah di Bone. Ayahmu beruntung mendapatkannya”

Tak satupun karya-karya alberthiene endah yang pernah saya baca sebelumnya. Penulis yang yang telah melahirkan puluhan buku biografi, scenario dan penulisan fiksi sedikit memberikan jamian kualitas atas karyanya yang terbaru. Athirah. Sebuah buku novel biografi sosok wanita tangguh dari tanah bugis.

Saya telah memiliki satu jaminan kualitas berdasarkan track record A.E (Alberthiene Endah, sing.pen) .

Athirah, sebuah novel biografi. Menurutku untuk ini A.E sudah sangat jelas memiliki kapabilitas. Dengan alur cerita yang diciptkan ternyata mampu menghadirkan kesan berbeda, seolah kisah ini tak pernah mati.

Untuk wilayah Sulawesi selatan, khususnya Makassar dan kab. Bone. Nama athirah bukan suatu ha lasing lagi, walau demikian tak banyak pula yang tahu bahwa siapa sebenarnya Athirah yang namanya telah diabadikan untuk sebuah sekolah islam terkemuka di Makassar dan Kab. Bone. Mereka tahu athirah tentunya orang besar, dahulunya atau paling tidak seorang wanita yang berpengaruh. Tak salah memang.

Novel buku Athirah ini tak lebih seperti sejarah hidup dirinya dengan melahirkan banyak anak dan pengalam dimadu oleh sang suami menjadi perjalanan hidup yang kelak membuatnya semakin kuat.

Berawal dari Jusuf Kalla , si tokoh Aku dalam Athirah mengunjungi makam Ibunya di pemakaman islam bontoala, Makassar. Penggunaan alur campuran semakin membuat novel ini terasa seperti bukan novel biografi. Seperti saya yang benar-benar buta tentang Athirah, membacanya tetap memiliki sensasi yang sama ketika membaca novel-novel lainnya.

Namun Athirah ternyata memberikan sesuatu yang berbeda dari lainnya, bahkan untuk ukuran karya biografi sejenisnya. Mungkin ini karena kurangnya bahan literasi berupa novel maupun lainnya yang besinggungan lansung dengna tanah bugis Bone-Makassar.

Pengalaman dimadu dan memaafkan menjadi hiasan utama, bukan perkara mudah untuk memaafkan apalagi ukuran penderitaan seorang wanita yang dimadu suaminya. Akan tetapi Athira seolah mengajarkan kita bahwa belajar memaafkan lebih baik baginya dan untuk anak-anaknya. Ia tak ingin menyulut api peperangan yang kapan saja akan sanga mudah disulutkan, tapi ia memilih untuk diam, ia, athirah tahu apabila ia memulai pertikaian itu, bukan hanya ia dan sang suami merasakan gejolak namun juga anak-anak mereka yang saat poligami terjadi masih sangat labil. Disini kita bisa melihat kecerdasan seorang ibu yang tak egois. Jika ingin memikirkan dirinya sendiri, tentu penceraian yang ia minta akan ia dapatkan. Namun setelah perceraian apa yang terjadi ? ia puas atas kemenanganyna ?

Tidak, athirah juga paham dengan berlaku seperti itu, kelak anaknya akan belajar untuk membenci tanpa memaafkan.

Disamping kisah Athirah, ada dua sosok wanita hebat lagi, yaitu; Mak Kerra, Ibunda Athirah dan juga Mufidah, istri Jusuf Kalla sendiri. Kisah ketangguhan mereka terekam dengan cara yang menganggumkan. Bagaimana seorang Mak Kerra dalam usiannya yang relatif muda menikah dengna kakek, kepala kampong dan sebagai istri keempat pula.

Serta kegigihan jusuf kalla mendapatkan cinta mufidah, mulai dari mendorong vespa dari sekolah hingga rumah mufidah, membawa marching band, menjadi dosen pembantu hingga perjuangan mendapatkan restu orang tua mufidah.

Untuk karya yang memikat ini saya rasa tetap memiliki kekurangan. Tiada yang sempurna tentunya. Dalam athirah banyak didapati istilah-istilah bugis yang dalam penulisannya pun tak begitu akurat serta kurangnya penggambaran lokasi, baik di Bone maupun Makassar, padahal sekiranya hal ini dapat dibangun, maka sebuah kekuatan sejarah akan terbangun. Bagaiamana sosok Mak kerra, ibunda Athirah lahir dari rahim yang sama, seorang perempuan dan dengan kisah yang sama. Mereka sama-sama kuat.

Barangkali karena A.E sendiri orang jawa, sehingga banyak kultur, pesona, keadaan bugis yang tak berhasil terekam yang semestinya ada.

“seandainya kisah Athirah ini dituturkan oleh seorang bugis, maka saya rasa akan sangat lengkap” ucap S. Gegge Mappangewa (penulis Lontara Rindu) suatu ketika dalam sebuah forum bedah buku.

Lebih dari itu Athirah tetap menjadi salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan. Karena wanita selalu memiliki rahasianya sendiri dan tanpa kita tahu ternyata mereka lebih kuat dari kita.

“dibelakang seorang lelaki yang hebat, terdapan seorang wanita kuat”

—————————————————————————

“Ibumu lahir dari rahim kesabaran, ia barangkali telah menangis dalam kandungan”

Kerra, ibunda Athirah. Kerra remaja, sang jelita dari tanah Bone. Para pemuda berebut untuk mendapatkannya, namun ketika seorang kepala kampong yang telah berumur serta memiliki tiga orang istri menjadikan kerra sebagai istri keempat membuat seisi bukaka heboh.

Gadis jelita itu kini menjadi istri keempat, banyak yang bertanya mengapa kerra ingin, apa ia bahagia ?. namun tiada yang benar-benar tahu. Tapi Mohammad sangat menyanyangi Kerra

“aku bermimpi memangku bulan” ucap mohammad ketika kemudian kerra hamil.

“semua orang sibuk menebak-nebak akan secantik apa ibu saat lahir karena ia dikandung oleh perempuan yang sangat bening. Namanya kerra”

Athirah lahir dengan kehidupan poligami yang dianggap sudah biasa pada waktu itu, mak kerra hanya berharap athirah tidak memiliki nasib yang sama dengannya.

Bertahun-tahun kemudian berlalu, Athirah menikahi pemuda pekerja keras, ia Kalla. Dikaruniai banyak anak serta rezeki. Tapi siapa mengirah athirah yang berlimpa kebahagian harus mengalai hal serupa dengan mak Kerra.

Hadji kalla adalah pengusaha ulung dan seorang pekerja keras. Dengan usaha yang bernafaskan islam ia terus menjalankan usahanya.

Hari-hari athirah kemudian berubah suram. Anak-anaknya pun bisa merasakan kemurungan ibunya. Namun perlahan tapi pasti Athirah mampu bangkit dari kesedihan, dengan usaha kain sutranya ia mampu sedikit menepis sakit hatinya.

Sebuah keputusan besar dibuatnya waktu itu, ia memilih untuk ikhlas dan memaafkan. Suatu perkara yang pada waktu itu jusuf sering mempertanyakannya. Namun kita tahu sekarang darimana kehebatan seorang jusuf kalla dapatkan.

“aku mencitaimu athirah….maafkan aku. Kau bawa sakit hatimu hingga mati. Maafkan aku”

Tiga bulan setelah athirah meninggal, Hadji Kalla pun ikut meninggal. Pada april 1982

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s