Tabula Rasa

Judul : Tabula Rasa
Penulis : Ratih Kumala
Editor : A. Ariobino Nusantara
Sampul : Hagung Sihag
Penerbit : Grasindo, Jakarta . Cet. III April 2006 . vii+ 185 hlm.

“Vi, aku kini tahu siapa aku, Aku dilahirkan sebagai batu tulis kosong. Aku Tabula Rasa, aku adalah dogma dan aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup. Aku tak pernah menyesalinya.Aku tak menyesali jalanku”

halaman 183
Tipis memang novel satu ini namun saya rasa novel ini salah satu novel yang kaya. Karya ini terbit dari hasil Kemenangan Ketiga dalam sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DJK) 2003. Novel lama memang, dan lagi-lagi sayan mengula novel lama. Namun rasanya saya begitu antusias buat menulis kesan setiap membaca buku, sebuah saran sebernanya, bahwa menceritakan kembali adalah memberi kita kesempatan untuk memahaminya.
Dari sampulnya saya tak terlalu suka,walau mungkin akan lebih menarik jika hanya judul dan dedaunannya saja yang ada. Jadi tak banyak cerita pula yang bisa saya bagi dari ketidak sukaan saya.
Tabula rasa adalah teori yang menyatakan bahwa manusia lahir pada dasarnya adalah suci. Raras adalah tokoh sentral penuh kontroversial dan penuh problematik khas dunia perkotaan di era milenium. Apakah Raras mendapati dirinya hitam atau putih dengan bintik hitam atau ia sedang berjuang untuk kembali ke Fitrah! .penuh dengan simbol yang memerlukan penalaran dan asbat dari penulis sendiri.
“Tabula Rasa” menurut saya pribadi sangat unik dan merupakan novel pertama dalam kasus Point Of View /sudut Pandang yang kaya. Karya yang membawa kesegaran setelah hanya berputar pada satu POV yang itu-itu saja. Bukan perkara mudah menghadirkan banyak POV dalam satu karya tanpa membuat pembaca bingung atau malah berhenti membacanya. Namun dengan piawa satu POV lompat ke POV yang satu berhasil diterobos. Selain POV, alur yang digunakannya juga kerap melompat. Asyik menemukan sebuah karya yang beda.hhh
Secara umum novel ini menceritakan tentang problematika kehidupan di era Millenium yang baru tumbuh walau terdapat banyak pesan khusus yang kadang terselip. Secara kasat mata novel ini memiliki masalah yang serupa dengan novel “lost Butterfly” Karya Yandasandra yang pernah saya baca. Novel ini pula menjadikan dunia begitu kecil dengan tokoh yang begitu kompleks hidupnya tanpa membatasi teritorial. Dan mungkin ini juga yang membuat saya sedikit terganggu mendapati dialog dengan terjemahan lansung, tanpa menggunakan footnote atau hanya menggunakan sebahagian saja. Jika dialog itu pendek memang tak berpengaruh banyak namun lain halnya pada dialog yang panjang.
Tapi diluar itu Tabula Rasa sungguh membuat ingin terus membalikkan halaman, tak ubahnya dengan novel Thriller yang teros memompa adrenalin dengan banyaknya ranjau kejutan.
Sebuah kisah cinta yang amat kompleks bagi tokoh Galih yang harus kehilangan kekasih seorang wanita rusia, yang menjadi korban transisi kekuasaan Gorbachev ke Borris Yelsin.Waktu pun berlalu dengan cepat, Galih Kembali ke Indonesia setelah menjalani masa mahasiswa di Rusia dan menjadi Dosen di Indonesia. Yang kemudian mendapati salah satu mahasiswinya yang disatu sisi memiliki kesamaan dan mengingatkannya pada kekasihnya dulu.
Lambat Laun Galih pun menjaling kasih, namun berakhir tragis ketika mendapati ternyata Raras adalah ….// hayo tebak Raras adalah apa ?
Namun diluar cerita yang amat kompleks dan meloncat-loncat bagai bajing. Maka konsentrasi harus disiapkan jika tak ingin kehilangan detail cerita yang sangat dibutuhkan menopang keutuhan pemahaman cerita.
Dan sedikit saran bila tiba-tiba menemukan buku ini, mungkin akan lebih bijak bila tak menerima mentah-mentah apa yang ada. Dalam karya ini sedikit banyak memiliki ungkapan dan pemikiran yang mungkin berbau “nyeleneh”
Sejauh itu karya ini diluar konteks pesan yang mungkin kurang saya suka..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s