Lukisan Perkawinan

 

Judul : Lukisan Perkawinan
Penulis : Hamsad Rangkuti
Penyunting : Aiens
Perwajahan Sampul : Pang Warman
Perwajahan Isi : Ati Y.A
Penerbit : Matahari, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Oktober 2004
Tebal : 221 Hlm.
Source ; armartapura
Untuk apa aku membuat resensi sebuah buku lama ?, jika ini pertanyaan engkau ajukan maka aku akan menjawabnya aku sedang dalam masa pembelajaran membuat sebuah resensi dan segala manfaatnya. Hanya itu. Dan secara menggoda Kumcer ini mengerling kearahku di deretan rak-rak buku.
Aku sedikit tergoda dengan judul yang digunakan, LUKISAN PERKAWINAN. Sebuah judul yang menggugah tanya yang lebih lanjut untuk membacanya. Didukung dengan desin cover yang memperkokoh judul itu sendiri. Walau aku sedikit kurang suka dengan Tipografi yang digunakan untuk judul.
Hamsad Rangkuti seorang Cerpenis serta Novelis kelahiran 1943 merangkum cerpen-cerpennya yang pernah terbit diberbagai Koran dan Majalah, terkecuali dua Cerpenya yaitu “Permintaan yang aneh” dan “Sukri Membawa Pisau Belati”
Hampir sebahagian cerpen dalam buku ini adalah sebuah pesanan dari Majalah Wanita, namun ini tak mengurangi nilai cerpen yang dihasilkan. Cerpen yang telah berusia 20 tahun sejak diterbitkannya saat tahun 2004 ternyata masih sangat mengena untuk jaman sekarang. Bisa saya katakan bahwa nilai yang terkadung dalam kumpulan cerpen miliknya tak termakan perubahan yang sangat deras.
Seperti judulnya “Lukisan Perkawinan” kumpulan cerpen didalamnya juga banyak menceritakan mengenai persoalan rumah tangga. Seperti misalnya Cerpen pertama yang sama dengan judul Kumpulan cerpen ini yaitu “Lukisan Perkawinan” menjadi gerbang pembuka yang pas untuk menggambarkan apa yang mungkin tertuang dalam cerpen-cerpen selanjutnya. Amarah,Prasangka,Keangkuhan serta kemiskinan dalam “Lukisan perkawinan” adalah sebuah kesimpulan yang utuh. Cukup mengena menjadi cerpen pertama, namun mungkin akan lebih menggigit jika diletakkan pada terakhir.
Lalu “Muntah” yang memberikan nuansa pembuktian Rasa cinta pada pasangan. “Dendam” menjadi kebalikan dari cerpen sebelumnya, penuh dengan upaya balas dendam. Walau akhir cerpen sedikit lebih mudah ditebak, namun tetap menyisahkan ketegangan.
“salam Lebaran” tak kalah menarik dengan simbol-simbol yang ada dalam cerpen ini, sebuah kisah seorang lelaki yang menguji kesetian calon istrinya. Nah ini mungkin menjadi salah satu favoritku “Sukri Membawa Pisau Belati” walau banyak redaksi merasa kurang sreg dengan cerpen ini, namun saya bersyukur bisa membacanya. Sebuah ending yang engkau bisa menentukan sendiri jalan mana yang bisa kau pilih, menarik buat saya. Walau mungkin harus beradu lebih lama membacanya lantaran bingung, tapi disitulah letak nilai tambah dari cerpen ini.
“Sajak Dan Tongkat” mungkin cerpen yang kurang aku mengerti intisarinya. Dan lalu ada “Permintaan Aneh” ini memiliki nasib yang sama dengan “Sukri Membawa Pisau Belati” juga ditolak. Namun rasanya cerpen yang satu ini pernah dituangkan dalam Layar Kaca. Dan “Permintaan Aneh” juga menjadi cerpen paling saya sukai, saya tak hentinya terkekeh saat membaca, walau demikian tetap memiliki makna yang dalam. Bagaimana seorang suami begitu harus membuat istrinya senang, bahkan saat saat mengidam hal-hal yang aneh.
“wanita di Bawah Pohon” mungkin adalah cerpen yang sangat berbeda. Ada kesan pertama bahwa Cerpen ini tampak seperti cerpen terjemahan. Membawa pembaca lewat Tokoh “Aku” untuk bertanya-tanya tentang Sri yang memilih berteduh saat hujan deras dibawah pohon ketimbang disebuah gedung.
“Gunting Pita” , “Upacara Untuk Ibu” dan “Perjalanan” memiliki kecenderungan yang sama. Saya tak menemukan ketegangan yang mendalam pada cerpen ini seperti cerpen-cerpen yang awal. Hingga “Kado Perkawinan” anak tukang cukur yang malu akan profesi ayahnya, Calon suami Rabiah akhirnya mengajarkan kepada kita arti mensyukuri Rejeki, akhir yang tak terduga membuat cerpin ini semakin mengena.
“Tembok Itu Hitam di Matanya” sebenarnya tak kalah seru jika saja ada gejolak yang lebih menggelora didalamnya, tapi tetap saja memberikan pesan-pesan yang mendalam dan paling krusial dalam kehidupan. “Kesetian itu” semakin membuatku hampir mengantuk membacanya hingga “Lumpuh” yang kembali membuatku memperbaiki pose baca, aku hampir meneteskan air mata membaca cerpen terakhir. “Lumpuh” menjadi penutup yang kurang lebih berhasil meninggalkan jejak.
Walau belum pernah sebelumnya saya membaca cerpen-cerpen milik Hamsad Rangkuti, namun saya sungguh menyukai cara beliau menghidupkan setiap tokoh dalam Cerpenya, namun sebenarnya saya sedikit terngganggu dengan penggunaan nama SRI dan SUKRI yang terlampu sering muncul dalam kumpulan cerpen ini.
Namun sejauh ini kumpulan cerpen “Lukisan Perkawinan” adalah karya yang tetap hidup kisahnya dan sungguh terjadi hingga sekarang. Menurutkan tak mudah membuat sebuah cerpen yang bisa hidup dalam kurung waktu lebih 28 tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s