Aku akan dewasa, nanti

Akhirnya, disinilah aku berada. Sendiri dan aku takut.
Mimpi-mimpi yang aku anggap kawan, menguap. Mereka terbang, menjadi mimpi orang lain.

Barangkali aku terlalu tua untuk mengeluh. Yah seorang gadis pernah memanggilku tua atau apalah. Selalu aku katakan kepadanya “itu hanya angka”. Aku merasa benar namun mengatakan itu tak juga mengubahku tuk lebih dewasa.

Barangkali aku hanya perlu terdiam. Cukup memandangnya lebih lama dan mengatakan ‘mengapa kau begitu indah, sedang aku terlampau rapuh’. Dan kini kata-kata itu sebatas konsep yang tak pernah terucap. Tak ada ruang untuk mengatakan hal itu lagi. Atau mungkin nanti, ketika aku bertemu diriku yang lebih dewasa, walau kini aku merasa semakin jauh.

Syndrom Selfigenit

Siapa yang tidak pernah melihat orang yang berselfie. Emma saya dalam seminggu bisa 7 kali loh. Belum lagi adik saya yang paling bungsu, kakak saya dan juga adik saya yang kedua. Mereka bisa dibilang para pecinta selfie. Dan eh saya lupa Bapak saya. Jadi bisa dikata keluarga saya adalah para pecinta selfie tidak termasuk saya loh.

Barangkali saya terkena syndrom selfieungenic . perasaan mual kalo melihat orang berfie ria dengan gaya moe-moe.

Namun saya selalu kagum kepada mereka, saya takjub dengan rasa percaya diri mereka yang sebesar lapangan sepak bola. Tak kenal tempat dan kondisi semua spot dilibas habis. Barangkali suatu hari nanti ada seseorang yang kurang kerjaan merangkai semua selfie sejagad raya dan mendapati semua spot di dunia sudah terdokumentasikan berkat selfie. Siapa tahu…

Disamping kagum saya terkadang heran, kok mereka tidak bosan yah ?. Hemm… barangkali sudah menjadi hobi. Toh saya sendiri tidak bosan tidur.

bibirmu yang salah menyebut nama

lama, diam
lalu lelah
hidupmu, redup
lalu gugur

// tak lama sebelum itu
ia ingin kau ingat dia
sebut namanya kala tidur
tahulah, barangkali ia kan datang
gerayangi bibirmu yang salah menyebut nama

// kau lelah lalu diam
tertidur tanpa kata
entah nanti ingat atau tidak
jelas, kini kau lelap tanpa ucap
Lalu ada bibir sebut namanya

// esok kau pergi
tak pulang sebelum kau ingat dia
walau hidupmu kan redup
tetap ada asa yang tak gugur
harap ada bekas bibirnya pada bibirmu

(Juli 2014)

Rindu macam apa ?

Rindu macam ini;
menggelisahkan,
mencekam.

Rindu ini menyerang hati
lalu menusuk rasa.

Rindu semacam ini tiada penawar
semakin tinggi dan tinggi
memaki mata tuk tetap terjaga.

Rindu ini gelisah dibuat
meluluhlantahkan
terperosok, ditelan sunyi
jika ada yang mereka risaukan
hanya akan terlupa,
tertiup
dan tenggelam

Rindu semacam ini adalah keinginan untuk lupa walau terus menolak lupa
hingga tiada,
ketika berpaling

(Maret 2014)

Siapa yang sedang menangis ?

Ada beda aku dan hujan
ia ingin aku tetap disini
sedang aku ingin pergi
jadi hujan tak henti
guyur apapun.

“siapa yang sedang menangis?”, tanyaku pada hujan
“sesorang yang amat nelangsa”, jawab hujan

“andai engkau berhenti barang sejenak
bisa aku datang membawa penawar rindu”

“ia tak ingin engkau datang”

“mengapa?”

“ia ingin engkau tetap disini
lawan dunia yang buat kawan – kawanmu tuli”

(Desember 2013)

credit:
Image by Maciej Szlachta via stock.tookapic