Syndrom Selfigenit

Siapa yang tidak pernah melihat orang yang berselfie. Emma saya dalam seminggu bisa 7 kali loh. Belum lagi adik saya yang paling bungsu, kakak saya dan juga adik saya yang kedua. Mereka bisa dibilang para pecinta selfie. Dan eh saya lupa Bapak saya. Jadi bisa dikata keluarga saya adalah para pecinta selfie tidak termasuk saya loh.

Barangkali saya terkena syndrom selfieungenic . perasaan mual kalo melihat orang berfie ria dengan gaya moe-moe.

Namun saya selalu kagum kepada mereka, saya takjub dengan rasa percaya diri mereka yang sebesar lapangan sepak bola. Tak kenal tempat dan kondisi semua spot dilibas habis. Barangkali suatu hari nanti ada seseorang yang kurang kerjaan merangkai semua selfie sejagad raya dan mendapati semua spot di dunia sudah terdokumentasikan berkat selfie. Siapa tahu…

Disamping kagum saya terkadang heran, kok mereka tidak bosan yah ?. Hemm… barangkali sudah menjadi hobi. Toh saya sendiri tidak bosan tidur.

bibirmu yang salah menyebut nama

lama, diam
lalu lelah
hidupmu, redup
lalu gugur

// tak lama sebelum itu
ia ingin kau ingat dia
sebut namanya kala tidur
tahulah, barangkali ia kan datang
gerayangi bibirmu yang salah menyebut nama

// kau lelah lalu diam
tertidur tanpa kata
entah nanti ingat atau tidak
jelas, kini kau lelap tanpa ucap
Lalu ada bibir sebut namanya

// esok kau pergi
tak pulang sebelum kau ingat dia
walau hidupmu kan redup
tetap ada asa yang tak gugur
harap ada bekas bibirnya pada bibirmu

(Juli 2014)

Rindu macam apa ?

Rindu macam ini;
menggelisahkan,
mencekam.

Rindu ini menyerang hati
lalu menusuk rasa.

Rindu semacam ini tiada penawar
semakin tinggi dan tinggi
memaki mata tuk tetap terjaga.

Rindu ini gelisah dibuat
meluluhlantahkan
terperosok, ditelan sunyi
jika ada yang mereka risaukan
hanya akan terlupa,
tertiup
dan tenggelam

Rindu semacam ini adalah keinginan untuk lupa walau terus menolak lupa
hingga tiada,
ketika berpaling

(Maret 2014)

Siapa yang sedang menangis ?

Ada beda aku dan hujan
ia ingin aku tetap disini
sedang aku ingin pergi
jadi hujan tak henti
guyur apapun.

“siapa yang sedang menangis?”, tanyaku pada hujan
“sesorang yang amat nelangsa”, jawab hujan

“andai engkau berhenti barang sejenak
bisa aku datang membawa penawar rindu”

“ia tak ingin engkau datang”

“mengapa?”

“ia ingin engkau tetap disini
lawan dunia yang buat kawan – kawanmu tuli”

(Desember 2013)

credit:
Image by Maciej Szlachta via stock.tookapic

(malu ‘tuk mencintaimu)

Pada dirimu buat kepakan sayap kupu layu.
(malu ‘tuk mencintaimu) … karenanya.

Walau tahu senyummu panjatkan doa.
Maaf … (malu ‘tuk mencintaimu)

Dirimu pula getarkan tanah dengan tutur kata.
Tunduk mata pula hati … (malu ‘tuk mencintaimu)

Walau tahu tetap hitam bayangmu.
(malu ‘tuk mencintaimu) … itu teduh

(malu ‘tuk mencintaimu)
bukan enggang ‘tuk mencinta
tapi ada yang tak jangkau
Umpama semilir lagi malu-malu goda badai

(malu ‘tuk mencintaimu)
Tapi kuingin tawarkan cinta beda rupa
aku ingin meninggalkan doa untuk calon anak kita, kelak, semoga.

Bagaimana ?

(Desember 2013)